Tampilkan postingan dengan label Purworejo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Purworejo. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Agustus 2014

PERJALANAN THESISKU


Akhirnya aku bisa tersenyum lega. Perjalanan di jenjang Pascasarjana ini selesai sudah. Ini bukan perjalanan super mulus seperti yang disangkakan orang-orang. Bebagai halangan, malam-malam berat, dan hari-hari yang melelahkan selalu adalah jalan yang harus kulalui saat aku menjalani statusku sebagai mahasiswa Pascasarjana ini.

Thesis aku kerjakan setiap hari. Senin pagi aku ke Solo. Seperti biasa dengan menggunakan Prameks pagi. Hal ini berlangsung selama kurang lebih 8 bulan. Pernah suatu kali aku ketinggalan kereta. Bukan ketinggalan kereta tepatnya, tetapi kehabisan tiket sehingga aku tidak bisa datang tepat waktu untuk menemui dosen pembimbingku, Dr. Ngadiso, M.Pd. Pernah juga aku menumpang bus malam. Sopirnya adalah seorang bapak yang sangat baik hati, sehingga beliau mengantarku tidak sampai Terminal Tirtonadi seperti bus lain, tetapi langsung diantar sampai depan gerbang kampus UNS. Pernah juga kotaku kebanjiran sehingga tidak ada bus yang lewat. Walhasil, aku telepon rumah untuk minta diantar ke Solo demi bertemu dosbing satuku, Prof. Dr. Joko Nurkamto, M.Pd. Pokoknya, apapun kulakukan demi bertemu dengan dosen pembimbingku.

Selasa pagi atau Senin sore, aku kembali lagi ke Purworejo. Ada kewajiban yang harus aku penuhi di kota ini: Mengajar. Jadwalku meliputi 50 jam pelajaran. Mengajar 40 jam, 5 jam sebagai wali kelas, dan 5 jam sebagai Pembina OSIS. Selasa sore dari jam 4 sampai dengan setengah 6 aku harus mengajar di kelas XI TP B. Hari Rabunya aku mengajar 10 jam. Itu berarti aku harus mengajar di 5 kelas. Full dari pukul 7 sampai dengan pukul 15.00. Sore hari, biasanya aku harus menunggui kelas yang berlatih upacara. Hmm.. Tanggung jawab sebagai Pembina Osis ini cukup memberatkanku, sebenarnya. Pukul 17.00, biasanya aku baru bisa pulang. Langsung mandi, dan tidur. Tengah malam biasanya aku akan terbangun. Tentu saja teringat pada nasib thesisku yang harus segera kuselesaikan.

Kamis adalah hari yang paling berat. Pasalnya, aku punya 12 jam mengajar yang harus dijalankan. Dari pukul 07.00, aku sudah berdiri di depan para siswa, menemani mereka belajar sampai nanti pukul 17.30.

Jam mengajarku yang lumayan ringan ada di hari Jumat. Hanya 4 kelas saja. Jadi, aku hanya stay di sekolah dari pukul 07.00 sampai pukul 15.00. Itu kalau tidak ada latihan upacara. Kalau ada, aku harus menunggui mereka dan dengan “terpaksa” harus tinggal lagi sampai pukul 17.30.

Sabtu tidak berbeda dengan hari lain. Sebelum pukul 07.00 tepat, motorku pasti sudah terparkir di lapangan parkir sekolah. Dan motor itu baru akan pindah dari tempatnya setelah pukul 15.00. Ada 5 kelas yang menungguku di hari Sabtu.

Bukan hari yang ringan. Saat itu, rasanya wujudku sudah berubah seperti zombie. Boro-boro main atau jalan-jalan, waktu untuk tidur pun berasa sangat kurang. Untungnya, sekarang sudah berlalu. :)

Rabu, 05 Februari 2014

HINDARI KEGAGALAN MELALUI MANAJEMEN WAKTU


 “Jika kita gagal merencanakan, berarti kita sedang merencanakan kegagalan”

 
Dalam menjalani roda kehidupan, manusia hanya memiliki sebuah siklus yang berujung hanya pada dua hal: SUKSES atau GAGAL. Pada dasarnya, Allah yang Maha Kuasa sudah memberikan modal yang adil pada setiap insan-Nya. Semua hamba-Nya, baik yang kaya maupun yang miskin, yang pandai maupun yang bodoh, diberi waktu yang sama: 24 jam dalam seharinya. Lalu, apa yang membuat orang itu berahkir dengan kata pandai atau bodoh, miskin atau kaya? Jawabannya adalah manejemen waktu. Semakin baik kita mengelola waktu, maka semakin baik kehidupan kita. Semua orang yang gagal sudah pasti merupakan orang yang gagal merencakan hidup mereka sendiri.


Menurut sebagian orang, waktu sehari 24 jam adalah waktu yang sangat lama. Namun sebaliknya, sebagian orang yang menganggap bahwa mereka memerlukan waktu lebih banyak lagi agar dapat mengerjakan semua tugas mereka. Banyak siswa yang mengatakan bahwa mereka sangat sibuk. Mereka bahkan tidak memiliki waktu untuk sekedar menengok PR mereka. Padahal kenyataannya, mereka memiliki waktu yang sangat longgar untuk membuka akun Facebook maupun berlama-lama di depan computer untuk main video games. Pada saat sudah deadline tugas, barulah mereka kalangkabut dan mngerjakan tugas/belajar ala kadarnya. Nah, disinilah alasan terbesar mengapa seseorang harus memiliki menejemen waktu yang baik.

Beberapa manfaat yang akan kita dapatkan dari menajemen waktu antara lain:

1.     Full Spirit!! Kita akan selalu bersemangat menjalani hidup

2.     Hidup kita menjadi seimbang, baik itu pekerjaan/pendidikan, keluarga dan refreshing

3.     Kita dapat mencapai impian kita

4.     Selalu termotivasi untuk action!

5.     Terhindar dari stress, pusing dan depresi

6.     Tugas dapat selesai tepat waktu

Nah, untuk mendapatkan manfaat itu, mulai detik ini belajarlah untuk memiliki perencanaan waktu yang baik. Ada beberapa hal yang perlu dikerjakan agar semua kegiatan yang perlu dilakukan dapar terlaksana tanpa mengganggu proses pelakasanaan kegiatan yang lain. Di bawah ini dijabarkan beberapa cara sederhana dalam memanfaatkan waktu

1. Sediakan waktu khusus untuk mengerjakan tugas atau belajar

Dalam waktu sehari, buatlah jadwal rutin untuk belajar atau menyelesaikan tugas. Jangan terlalu lama memberi alokasi waktu, karena terlalu lama berkutat dengan tugas justru akan menimbulkan beban bahkan stress. Sedikit demi sedikit, tapi teratur dan benar-benar direalisasikan.
 
2. Usahakan untuk memiliki tempat khusus

Beberapa kegiatan (misalnya belajar) membutuhkan tempat khusus agar tidak mudah “diganggu” orang lain. Carilah tempat nyaman dan paling disukai. Satu hal yang perlu dipertimbangkan: ada kalanya, jauhi kamar tidur, karena belajar di kamar hanya akan membuat kita mengantuk dan lupa pada tugas kita.

3. Review dan catat tugas mingguan di tempat yang sering dilihat

Kadang, kita lupa dengan tugas yang harus diselesaikan. Sebagai bentuk antisipasi, cobalah untuk mulai menuliskan semua tugas dalam sebuah catatan dan menempatkannya di tempat yang paling sering kita lihat. Notes kecil adalah salah satu alternative yang bisa dipakai. Jika kita sering membuka laptop, tidak ada ruginya kalau kita menuliskan tugas kita di program Sticky Notes dan memajangnya di layar desktop. Jika jarang membuka laptop atau malas menulis di notebook, menuliskan daftar antrian tugas di HP adalah pilihan yang bijaksana. Tujuannya hannya satu: membuat kita senantiasa ingat pada tugas! J

4. Buatlah skala prioritas         

Bila ada banyak hal yang harus dikerjakan, buatlah daftar kegiatan yang harus diselesaikan. Urutkan setiap tugas dalam urutan 1, 2, 3, dan seterusnya berdasarkan kepertingan atau deadline-nya. Laksanakan tugas yang paling penting terlebih dahulu, baru kemudian tugas no 2 dan seterusnya sampai selesai. Skala prioritas ini akan membuat kita bisa menyelesaikan tugas sesuai jadwal, dan menghindari stress.

5. Luangkan waktu untuk bersenang-senang

Manusia memiliki batas kemampuan. Jangankan kita, computer-pun akan jebol apabila dinyalakan non-stop tanpa jeda. Oleh karena itu, otak dan badan membutuhkan waktu untuk beristirahat sejenak. Tidak usah terlalu memaksakan diri jika kondisi fisik memang sudah tidak memadai. Lakukan hal yang bisa mengembalikan semangat seperti minum kopi, membaca novel kesukaan, sekedar jalan-jalan ke mall, atau pergi ke taman.

6. Jangan membebani diri dengan tugas yang berlebihan

Kadangkalanya karena terlalu bersemangat, kita membuat program yang amat sangat sulit dilaksanakan. Misalnya, saat kita berencana untuk mendapatkan nilai 100 di ulangan Matematika, kita berencana untuk tidak tidur semalaman. Alih-alih dilaksanakan, kita malah sama sekali tidak melaksanakan program itu karena sudah lelah membayangkan betapa mengerikannya belajar Matematika dalam waktu 6 jam. Seandainya terlaksana pun, ilmu yang kita dapat tidak dapat diserap secara optimal karena belajar terlalau lama justru akan membaut otak buntu. Oleh karena itu, buatlah perencanaan yang simple, ringan, dan sederhana agar mudah dilaksanakan.

7. Temukan dan manfaatkan waktu sempit

Saat berangkat sekolah di bus adalah salah satu waktu sempit yang bisa dimanfaatkan untuk menengok tugas kita. Daripada 10 menit dibiarkan mengalir percuma, akan lebih bermanfaat apabila kita membaca buku pelajaran yang belum sempat dipelajari sebelumnya.

8. Jangan menunda! Lakukan secara bertahap, selesaikan satu per satu!

Semua rencana yang telah kita buat akan menjadi sia-sia dan percuma jika tidak ada realisasi. Maka, mulailah untuk tidak terbiasa menunda pekerjaan. Kerjakan tugas seawal mungkin, agar nanti kita tinggal bersantai. Ingat, mengerjakan banyak tugas ibarat menaiki anak tangga setinggi 100 m. Kita tidak mungkin menapaki anak tangga langsung dari 1 ke 100, tapi harus bertahap. Satu hal yang pasti: setapak demi setapak, kita PASTI SAMPAI.

Demikianlah paparan sekilas mengenai pentingnya menejemen waktu. Selamat mencoba. God bless you. Salam dan bahagia!

Kamis, 15 Agustus 2013

FINALLY, IT IS DONE!

“Kuliah lagi?” kalimat itulah yang pertama kali mengalir di otakku tatkala orangtuaku menghendaki aku melanjutkan studiku ke jenjang pascasarjana. Kuliah S2? Buat apa? Aku tidak begitu tertarik untuk berkutat lagi dengan segudang buku dan handout kuliah. Memikirkannya saja sudah membuat kepalaku pening. Ditambah lagi, aku juga bekerja. Bekerja diPurworejo lalu kuliah di Yogya/Solo? No way!

Singkat kata, akhirnya aku dinyatakan diterima di UNS, kampus tempatku menimba ilmu dulu di S1. Tanpa terasa, satu semester yang “berdarah-darah” pun telah kulewati bersama dengan teman-teman seperjuanganku di kelas Paralel 1B 2013. Tidak seperti kuliah di jenjang S1 yang berjalan mulus layaknya jalan tol Daendels di ujung selatan kota Purworejo, perjalanan kuliahku diwarnai dengan banyak noda dan rintangan yang cukup membuatku ambruk ke ruang klinik dokter Budi beberapa kali.

Let me explain my “hard journey”. Pertama, ada satu hal yang membuatku memilih UNS sebagai tempat kuliahku di jenjang S2: ada kelas parallel dua hari, sekali dalam dua minggu. Maka, ketika Kaprodiku mengumumkan tidak adanya kelas parallel saat kuliah perdana, kontan rasanya dunia mau kiamat. Terus aku piye?????? Padahal sudah terlanjur bayar untuk SPP semester 1. Kalau aku lanjut, berarti aku harus berhenti kerja (padahal belum tentu Kepsekku member izin. Scara pengunduran diriku bakal mendadak, ditengah-tengah tahun ajaran pula). Kalau tidak jadi kuliah, uang enam juta-kuhangus, hilang melayang. Satu minggu, dua minggu, aku dan teman-teman yang ngotot untuk tetap diadakan kelas pararel dengan terpaksa harus mengikuti perkuliahan dengan jadwal kuliah kelas regular: Kamis, Jumat, Sabtu. Untung saja, saat itu pas kebetulan tanggal merah. Minggu berikutnya, pas ada TUC Kabupaten. God saved me.

Tralala! Tiba-tiba ada keajaiban terjadi. Hari itu, aku ingat betul. Suatu sore yang ternyata memberi pencerahan bagi kami yang berjuang untuk kelas Paralel. Kelas Paralel jadi dibuka, asalkan ada 20 mahasiswa yang mendaftar. Well. Tidak sampai 20 mahasiswa yang mau. Sampai detik itu, 16:48, baru ada 19 mahasiswa yang mendaftar. Satu menit kemudian, satu mahasiswa bahkan malah mengundurkan diri. Rasanya perutku tambah mau muntah saja. Tiba-tiba, masuklah Pak Indro, mahasiswa dari Jogja, dan mengumumkan bahwa beliau dan Bu Madya, teman kuliah kami yang ternyata juga adalah istrinya akan masuk kelas Paralel. Akhirnya……… Genap 20 mahasiswa. Allah memang sudah mengatur jalan kuliah kami sedemikian rupa. Berliku, tapi happy ending di akhir kisahnya.

Rasa cemas dan kekhawatiranku tidak berhenti sampai hal itu saja. Di hari pertama kami mengawali kuliah kami dengan jadwal baru di kelas parallel, aku datang terlambat. Biasanya, aku naik keretapukul 04.00. Namun, saat itu kereta tidak juga datang. Padahal, jam tanganku sudah menunjukkan pukul 05.00. Kuliah Linguistics Mr Martono dimulai pukul 07.30. Walhasil, aku terlambat dua jam di kuliah pertama. Haha.

Bukan hanya itu saja. Setiap kali aku membaca semua status teman-temanku di kelas regular, aku hanya mampu menelan ludah dan merasa tak berarti apa-apa. Untuk mengerjakan projek video Academic Speaking dari Bu Dewi saja, mereka sampai menyewa aula Pascasarjana, membawa segala alat rekam canggih yang namanya-pun bahkan aku tak tahu. Sedangkan aku dan teman-teman di kelas parallel, hanya mebuat video dengan kamera digital ala kadarnya. Meski tidak seperti teman-teman yang mengambil shooting di kelas, aku menggunakan jasa murid-murid di sekolah sebagai objek seminar kecilku. Dengan pinjaman kamera dari UPHI sekolah, cameramen seorang toolman sekolah, dan editor oleh seorang guru Kimia, berjalanlah shooting videoku. (Mas Bud dan Ki Edy Riwayat, saya berhutang bud pada Anda berdua). Entah setan apayang menggangguku saat itu. Untuk meng-copy hasil video dari memory card kamera ke laptop saja, butuh waktu 4 JAM! Malam harinya, walau harus begadang sampai pagi, editan video-ku jadi. Alhamdulilaaaahhh.

Ada lagi satu kejadian bersejarah yang nyaris saja berbingkai darah ketika kuliah terkhir. Waktu itu aku harus berangkat ke Solo sendiri. Ndilalah, tak ada seorang-pun yang bisa mengantarkuke stasiun. Akhirnya, kubawa sendiri motorku. Apesnya, tiba-tiba tas dokumenku yang kucantolkan di cantolan motor samping kanan terjatuh. Padahal, dalam tas itu tersimpan semua dokumen kuliah, flashdisk, juga semua print out tugas. Jatuhnya,tepat di tengah jalan raya (soalnya saia suka ngebut, jadi jalan di tengah,niatnya kan biar cepat sampai gitcu...) Kontan saja kuberhentikan motorku ditengah jalan. Pikiranku hanya satu: SELAMATKAN TAS ITU. Tanpa kusadari, sebuahtruk container beroda 12 yang berisi berpuluh-puluh karung pupuk hampir sajamelindasku. AAAAAAGGGGGHHHHHHHH!!! Tapi tenang saja: AKU SELAMAT.

Setiap kali bertemu teman-teman lamaku (entah teman SMP atau SMA), selalu kudengar pertanyaan yang sama: Kok semakin kurus saja? Kadang, risih juga mendengarnya. Padahal,  aku juga sudah menghabiskan berkaleng-kalengsusu Weight Gain. Nyatanya, tanpa hasil. Dalam hati, aku selalu menggerutu setiap mendengar pertanyaan itu. Bagaimana mau gemuk? Setiap Minggu dan Senin, aku harus kuliah dari jam setengah delapan pagi sampai Sembilan malam. Pagiharinya, Selasa tepat pukul tujuh, aku harus sudah mengoceh di depan para siswaku sampai kurang lebih pukul tiga sore. Belum lagi kalau ada tugas. Hampir setiap hari harus begadang sampai pagi mengerjakan semua tugas itu. Dari semua tugasitu, ada satu makalah yang sampai membuatku berkunjung ke klinik Dokter Budi: FILSAFAT. Bukan sekali atau dua kali, tapi tiga kali. Kata dokter, aku stress hingga membuat-ku Insomnia. Bagaimana gak insomnia? Mau kukerjakan makalah itu, aku jelas gak bisa. Kalau kutinggal tidur, sama saja mataku terbayang-bayang wajah dosen GENIUSku yang tentu akan membabat habis makalahku tanpa sisa. Sepertinya, otakku hanyalah seperseratus isi otak beliau. Prof Joko. Tak peduli seberapa kuat badai menghempas negeri Indonesia, kisah hidup Anda akan selalumenginspirasi saya. Bahwa kita memang harus bekerja keras super keras (meski harus sampai jatuh sakit macam saya….) untuk mendapatkan hasil yang minimal mendekati sempurna.

Akhirnya, dengan ditemani I WON’TGIVE UP milik Jason Mras, lagu kebangsaanku di era pascasarjana ini, (lagu kebangsaanku di zaman S1 adalah Armada Masa Depan milik Ada Band, silakan download) dan secangkir kopi Good Day di hampir setiap malam, telah kulewati semester 1 kuliahku. Finally, it is done! Kukumpulkan lagi remahan-remahan semangatku untuk menjalani kuliah lagi di semester 2, 1 SEPTEMBER2013. Akhir semester 1 ini bukanlah akhir dari semua perjuangan kami. Gerilya ini masih akan terus berlanjut. Dan lagu milik Jason Mras itupun masih akan terus mengalun….

"I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up


'Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We've got a lot to learn
God knows we're worth it
No, i won't give up”


SEMANGAT! MARI BERJUANG LAGI, KAWAN!

Sabtu, 27 April 2013

BAHASA INGGRIS SULIT DAN MEMBOSANKAN? SIAPA BILANG?

Bahasa Inggris adalah sebuah bahasa yang tidak dapat kita pisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bagaimana tidak? Bahasa ini telah dipakai sebagai lingua franca oleh semua negara di dunia. Oleh karena itu, kita sebagai kaum yang notabene disebut melek pengetahuan wajib menguasai bahasa ini.
Mengapa perlu belajar bahasa Inggris?
Di bawah ini tertulis dua alasan utama mengapa kita perlu sedikit tahu tentang bahasa Inggris:
  1. karena bahasa ini adalah bahasa internasional yang dipakai di seluruh penjuru dunia. Semua buku internasional memakai Bahasa Inggris. Film internasional juga memakai Bahasa Inggris. Jadi, ketika kita berwisata ke negara Mexico atau Cina, kita tidak perlu mempelajari bahasa Latin dan Cina. Cukup dengan berbekal bahasa Inggris saja.
  2. mata pelajaran ini diujikan dalam Ujian Akhir Nasional!!! Ini seringkali menjadi momok. Banyak sekali siswa yang tidak lulus karena Bahasa Inggris, bukan Bahasa Indonesi. Padahal pada intinya kedua bahasa tersebut memiliki pokok ajaran yang hampir sama.
Sekarang sudah tahu kan betapa pentingnya bahasa ini dalam kehidupan sehari-hari? Bisa dikatatakan bahasa Inggris merupakan konsumsi primer yang wajib dikuasai oleh pelajar di Indonesia. Akan tetapi, beberapa pihak mengatakan bahwa mustahil bagi orang Indonesia untuk dapat mahir memakai bahasa Inggris. Alasan utama yang paling sering muncul sebagai hambatan suksesnya pembelajaran bahasa Inggris adalah anggapan bahwa kita terlahir dengan “lidah Indonesia”, jadi apapun yang kita lakukan untuk belajar bahasa ini tidaklah mungkin bisa. Asumsi ini memberikan dampak negative bagi mindset pelajar sehingga mereka sudah merasa enggan sebelum belajar. It’s a NO NO! Lalu mengapa banyak warga AS berdarah Indonesia yang malah lebih mahir berbahasa Inggris dan tidak mengerti sama sekali bahasa Indonesia? Sekali lagi bukan karena lidah! Alasan sesungguhnya ada pada lingkungan dan kebiasaan. Jika kita membiasakan diri belajar, apa pun akan kita takhlukkan. Dan ada satu hal lagi yang perlu kita lakukan: amalkan yang sudah kita dapatkan. Tanpa implementasi yang kontinu, segala hal yang kita dapat akan lenyap. Ingat sebuah jargon sebuah perusahaan bonafid dunia “Practice Makes Perfect”. So, mulai saat ini, jangan anggap Bahasa Inggris sebagai bahasa yang tidak mungkin kita kuasai. Di dalam buku Financial Revolution, Tung Desem Waringin berkata bahwa manusia cenderung menjauhi hal yang dibencinya, dan mendekati hal yang disukainya. Oleh karena itu, cintailah Bahasa Inggris dahulu, maka Anda akan temukan bahwa Anda mahir dalam bidang itu!
Lalu, bagaimana cara belajar bahasa Inggris yang tidak membosankan?
Ada dua pilar utama dalam bahasa Inggris, yaitu Vocabulary (kosakata) dan Grammar (Tata Bahasa). Kalau kedua hal ini dapat kita kuasai, maka kita dapat berbicara lancar layaknya Justin Bieber yang asli kelahiran Kanada. Nah, kosakata ini dapat kita kuasai dengan belajar sendiri. Andai saja sehari kita menghapal 5 kata, maka dalam setahun kita sudah menguasai lebih dari 1500 kata. Incredible… Sedangkan Grammar adalah bagian dari Bahasa Inggris yang diajarkan di sekolah dan dapat pula kita pelajari dari membaca buku maupun belajar dari internet. Nah, sebagai upaya infiltrasi kedua materi ini, kita dapat memakai banyak sekali cara menarik untuk belajar Bahasa Inggris, diantaranya:
1.      Western Song
Media lagu dapat kita pakai sebagai sarana untuk belajar dalam aspek Speaking. Kita dapat belajar mengucapkan kalimat, frasa, maupun kata dalam bahasa Inggris dengan benar dari menyanyikan lagu berbahasa Inggris. Selain itu, lagu juga merupakan media yang sangat ampuh untuk mempelajari aspek Listening. Grammar pun dapat kita pelajari dari beberapa lagu. Sebagai contoh, kita bisa menemukan materi Conditional Sentences dalam lagu kepunyaan Hoobastank yang berjudul If I Were You. Dari judul lagu saja bisa kita ketahui kalau dalam Pengandaian (Conditional Sentences) tipe 2, subject “I” harus diikuti oleh tobe past “were”, tidak seperti dalam pola Simple Past Tense yang menggunakan “was”
2.      Games
Games akan sangat efektif dipakai untuk siswa karena teknik ini memotivasi siswa untuk belajar tanpa memberikan efek “memaksa”. Sifatnya yang santai dan menyenangkan mampu menciptakan suatu iklim belajar yang membuat siswa tidak cepat merasa bosan dengan materi yang dipelajari.
Contoh:
Dalam sebuah Games bernama Action Mimes, siswa bersama teman-temannya dapat belajar berbagai aspek bahasa Inggris. Misalnya salah satu dari mereka menjadi actor yang memainkan mimic sebagai seorang penyanyi. Nah, tugas siswa lain adalah menebak apa yang dia lakukan dengan menggunakan kalimat Present Continuous Tense “She is singing a song”. Dalam hal ini, secara tidak langsung siswa diajak untuk memahami materi Present Continuous Tense tanpa harus belajar dengan membaca dan menghapal dari buku seperti biasa.
Ada banyak sekali buku yang beredar di pasaran yang memaparkan berbagai macam Games yang bisa digunakan dalam mempermudah belajar bahasa Inggris, misalnya buku berjudul Fun English Games and Activities for You karangan Redjeki Agoestyowati.
3.      Penggunaan media (gambar, flash card, maps)
Gambar dapat dipakai sebagai media untuk belajar kosakata maupun grammar dengan cepat. Kebanyakan kamus anak-anak juga disajikan dengan menyertakan gambar di dalamnya karena gambar ini akan memudahkan pebelajar dalam meyerap materi yang harus dia kuasai. Ilustrasi materi grammar yang disajikan dengan gambar juga dapat meminimalkan tingkat kebosanan dan meningkatkan pemahaman siswa.



 
4.      Film
Jones (1997:5) menyebutkan beberapa keuntungan penggunaan film dalam belajar bahas Inggris. Film dapat memberikan gambaran mengenai real English-speaking. Dari film, pebelajar dapat mengerti bahwa bahasa speaking tidaklah serumit bahasa writing yang sangat mengedepankan struktur tata bahasa. Ini akan menumbuhkan self confidence pada siswa karena mereka akan tahu bahwa jika ingin lancar berbicara, bahasa speaking tidaklah rumit. Selain itu, body language, gestures, ekspresi juga dapat dipelajari dari film. Film juga memberikan beberapa informasi tidak langsung mengenai cara memulai percakapan, diskusi, dan komunikasi tanpa memalui proses menjemukan dengan hanya mempelajari melalui membaca. Kemampuan listening dan penambahan vocabulary juga dapat ditingkatkan dengan cara yang menyenangkan pula. Tonton film hollywood, dan simak dialog dari para aktor dan aktris. Catat  kata baru yang anda dapatkan dari teks terjemahan (subtitle), lalu rasakan manfaatnya.
5.      Praktek speaking dengan doa
Pernahkah kita mencoba berbicara kepada Tuhan dalam Bahasa Inggris? Trik ini mungkin terdengan sedikit lucu, tapi kalau kita malu berbicara dengan teman, mengapa kita tidak berbicara dengan Tuhan yang tidak akan menertawakan kita saja? Mungkin sebelum tidur kita bisa berdoa sederhana seperti ini:
Thanks God for today, thanks for Ur guidance all the days, thanks for every bread I have gotten, thanks for every people I have met, thanks for each activities U have permitted to be done, thanks for my lovely family, now I'm going to bed. Good night God.

Cara-cara yang disebutkan di atas hanya merupakan contoh pembelajaran bahasa Inggris yang bisa diterapkan agar proses belajar kita tidak melulu sebagai proses “duduk, baca, ingat”. Yang perlu kita ingat adalah jadikan bahasa Inggris sebagai sebuah objek yang menyenangkan bukannya menakutkan untuk dipelajari. Ingat: cintailah bahasa Inggris dulu, lalu praktekkan! Mozart baru dikatakan menjadi masterpiece setelah mengadakan kurang lebih 10 tahun konser, Graham Bell baru dikatakan berhasil setelah menjalani kurang lebih 999 percobaan, jadi jangan takut gagal pada percobaan kita yang pertama. Jangan meng-underestimate diri kita sendiri, yakinlah kalau kita BISA!!! Let’s have a try… J

Senin, 27 Agustus 2012

HANTU vs TUHAN

Pernahkah kalian melihat hantu? Kata nenekku, sewaktu muda dahulu beliau pernah dihadang kuntilanak di dekat pohon asam tua di tengah desa. Masa iya sih? Aku tidak percaya. Ibuku juga pernah bercerita kalau setiap akan nada orang meninggal, pohon bambu di belakang rumah pasti berbunyi “klotak klotak”. Tapi aku juga belum pernah mendengar bunyinya. Masih banyak lagi cerita lain yang menceritakan tentang keseraman hantu atau hal berbau klenik lain. Tapi masa iya sih? Manusia dan hantu kan punya dua dunia yang berbeda. Ngapain juga hantu ganggu kita? Kurang kerjaan banget kan. Opini pribadiku ini bertahan sampai suatu ketika…

Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta ke Purworejo. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 malam lebih kurasa. Aku sendirian, mengendarai motorku. Dari kota Purworejo sampai rumahku, aku masih harus menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit, karena rumahku berjarak 12 km dari pusat kota. Dari kota sampai pertigaan daerah bernama Maron, suasana masih biasa saja. Masih banyak lampu jalan dan rumah penduduk di area sepanjang jalan itu. Namun, jalanan mulai sepi ketika motorku mulai melaju dari arah desa Maron ke rumahku. Hmm, masih empat kilometer lagi baru aku bisa merebahkan badanku di kasur empukku.

Dari pertigaan desa itu, ada sebuah tempat yang kata orang dianggap sebagai tempat yang penuh misteri dan angker. Setono Segemblong. Setono adalah istilah yang diambil dari bahasa Jawa setempat yang artinya kuburan. Kuburan itu bernama Kuburan Segemblong, atau Setono Segemblong.

Perasaan takut dan was-was mulai menggerayangiku ketika aku memasuki daerah Jetak, kurang lebih 200 meter dari pertigaan Maron. Sebenarnya ketakutanku bukan berasal dari adanya hantu. Hari gini masa iya ada hantu, pikirku. Lagian kan aku naik motor, bisa langsung tancap gas kalau dikejar. Ya kan? Ketakutanku lebih berasal dari adanya rampok atau penjahat yang bisa saja menghadangku di jalan. Berkeliarannya makhluk cantik macam aku malam-malam seperti ini pasti kan mengundang bandit (eh eh eh, cantik ya…jadi batuk). Memasuki daerah Jetak, aku mulai menggigil kedinginan. Maklum saat itu hujan deras. Lampu rumah penduduk di sekitar daerah itu padam total, dan tidak ada lampu penerangan jalan di area itu. Busyet dah. Gelap banget. Seratus meter, dua ratus meter, dan akhirnya sebentar lagi aku akan melewati Setono Segemblong yang terkenal angker itu. Ketika aku melintas pas di depan gerbang kuburan itu, tiba-tiba motorku berhenti. Apaan lagi ini! Malah mogok. Pas di gerbang pula. Sialan, umpatku dalam hati. Aku pun turun dari motorku. Kutendang ban motor untuk melampiaskan kejengkelanku seperti dalam sinetron-sinetron di TV. Hujan belum kunjung reda. Daerah itu juga sepi, tak ada satu rumah pun yang berdiri di sekitar kuburan itu. Ya iyalah! Secara itu kuburan, masa mau dirikan rumah dekat-dekat situ, kayak tidak ada tempat lain aja. Kukeluarkan HPku, berniat menelepon bapakku, minta dijemput. Tapi  ternyata HP itu mati. Ingin rasanya aku berteriak minta pertolongan saat itu. Tapi mana ada orang lewatj jam segitu? Ini bukan kota metropolitan, bung! Aku terduduk di pinggiran jalan, berharap akan ada mobil atau kendaraan lain yang lewat, dalam kondisi HAMPIR menangis (seingatku, terakhir kali aku menangis adalah pas aku lahir, hehe). Rasanya seperti seratus tahun aku diam di sana. Tapi ternyata baru sepuluh menit. Tidak ada yang bisa kulakukan kecuali menunggu. Aku belum pernah mengalami hal yang namanya mogok di jalan sepi sebelum ini. Tiba-tiba, ada suara memanggilku.
“Motornya kenapa mbak?” seorang bapak separuh baya muncul. Entah darimana datangnya si bapak ini. Dia mengenakan sarung yang dikalungkan di lehernya, celana pendek tiga perempat seperti yang biasa dikenakan oleh orang Madura, sandal jepit, kaos warna gelap, dan peci hitam. Tangan kanannya menggenggam payung warna hitam. Kurang lebih penampilannya seperti itu. Aku lupa. Maklum saja, kejadiannya kan sudah dua tahun lalu.
“Mogok Pak, tidak tahu kenapa” jawabku sedikit lega karena akhirnya ada orang lewat. Bapak ini mungkin  adalah salah seorang warga yang sedang jaga ronda malam ini, pikirku.
“Sini saya bantu” si bapak itu langsung memeriksa motorku.
Kurang lebih lima menit setelah bapak itu melihat dan mengecek motorku, si motor yang kunamai Edgarda ini bisa menyala. Edgarda adalah kata yang berasal dari bahasa Anglo Saxon, kalau tidak salah, yang berarti pahlawan sejati.
“Alhamdulilah” batinku.
“Ini mbak, motornya sudah menyala. Saya permisi dahulu” kata si bapak itu berpamitan.
“Duh, terimakasih sekali Pak… Ini ada sedikit ongkos buat beli rokok untuk Bapak. Anggap saja sebagai ungkapan terimakasih dari saya” kataku sembari menyorongkan selembar uang sepuluh ribuan pada malaikat penyelamatku itu.
“Tidak usah Mbak. Rusaknya tidak parah kok. Saya permisi dulu” kata orang itu sambil berlalu pergi.
“Ya sudahlah. Tapi saya terimakasih sekali ya” jawabku setengah berteriak karena orang itu hamper lenyap ditelan pekatnya malam dan derasnya hujan. Lumayan, uangku yang sepuluh ribu tidak jadi melayang. Masih bisa kupakai untuk jajanku esok hari, hi hi hi.
Aku sudah bersiap-siap untuk men-starter motorku. Kucoba sekali, tapi kok tidak berhasil. Mati. Kugenjot starter manual di sebelah kanan kakiku. Tidak berhasil. Kuulangi lagi berkali-kali. Tetap tidak mau hidup juga. Kutolehkan kepalaku ke arah si bapak tadi menghilang. Rasanya dia berjalan kearah selatan.
“Paaakkk, tolong saya lagi Pak! Motor saya mogok lagi!” teriakku panik.
Tidak ada sahutan atau suara yang menjawabku. Aneh. Padahal belum ada semenit lalu si bapak itu pergi meninggalkanku. Kok sekarang sudah raib.

Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Entah apa yang membuat rasa takut yang begitu mencekam melandaku. Jangan-jangan si bapak tadi hantu!!! Aku tidak mau lagi duduk menunggu bala bantuan yang hendak membantuku seperti yang kulakukan tadi. Langsung saja kudorong motorku, balik lagi ke arah Maron. Daerah di sekitar itu memang tidak datar. Rumahku terletak di area yang lumayan tinggi, sehingga jika ada motor mogok atau kehabisan bensin bisa mendorong saja turun ke desa Maron tanpa perlu menghidupkan mesinnya. Tak kuasa lagi aku menahan rasa cemas dan takut di hati dan otakku. Pelan tapi pasti, motorku melaju ke bawah. Jantungku berdegup kencang tidak karuan. Sumpah aku ketakutan setengah mati. Sesampainya di pertigaan desa Maron, motorku hidup kembali. Hidup sendiri tanpa kuapa-apakan. Astaga naga! Apalagi ini? Tapi syukurlah ya Allah.

Kutata napasku selama lima menit. Kubaca basmalah dan ayat kursi. Lalu kuputar balik motorku. Kukumpulkan keberanianku untuk pulang. “Pulang” menjadi kata yang amat menyeramkan buatku. Bagaimana tidak? Kalau aku mau pulang, berarti aku harus melewati kuburan itu lagi. Bagaimana kalau motorku mogok lagi di tempat itu? Kubuang jauh-jauh pikiran itu. Kubulatkan tekad untuk melewati kuburan itu. Lalu dengan membaca doa, kulajukan motorku. Dan akhirnya…lima menit setelah saat itu…aku berhasil sampai di rumah. Dengan selamat.

Itulah pengalamanku. Nyata, bukan rekaan semata. Sampai saat ini, aku masih juga tidak tahu apakah si bapak yang menolongku itu manusia atau bukan. Tidak juga kupikirkan kuburan itu angker atau tidak. Yang jelas, setan itu memang ada. Mereka hidup berdampingan dengan kita. Tapi yakinlan, Allah selalu ada untuk melindungi kita, hamba yang sangat dicintai-Nya.

Minggu, 26 Agustus 2012

Duo Gaptek Dyanggih Supri


Diam. Sepi. Sunyi sekali rumahku hari ini. Padahal, hari ini masih merupakan hari ke-enam Idul Fitri. Dahulu kala, saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku biasa menghabiskan tujuh hari dalam tiap-tiap bulan Syawal untuk mengunjungi sanak saudara. Kegiatan itu terjadi di setiap bulan Syawal dulu sekali, kurang lebih lima belas tahun lalu, tentu saja bersama kedua orangtuaku yang galak tapi amat sangat kucintai (sorry, mommy J ). Namun saat ini, semua kebiasaan berubah 180 derajat. Memang sesuatu itu tidak pernah ada yang abadi. Laku kehidupan mengalir seperti perputaran roda. Dahulu, keluarga kami yang datang berkunjung. Namun sekarang, kami yang dikunjungi. Agak bosan memang buatku kalau hanya menunggu tamu seharian di rumah. Iseng iseng, kubuka handphoneku. Ada satu SMS dari Tom, teman kuliahku di universitas. Nama aslinya adalah Nanik Sri Retnaningsih. Namun, aku biasa memanggilnya dengan sapaan Tom, karena dia “tom”boy. Penampilannya tidak ubahnya seperti anak laki-laki. Sepatu kets, kaos oblong, tas ransel, dan topi. Dia suka sekali minum es. Kulitnya putih, pertama bertemu dengannya kupikir dia adalah seorang warga negara keturunan, dan wajahnya cantik. Tapi karena penampilannya yang tomboy ini,  beberapa temanku malah menganggap dia ganteng. Sebagian teman kuliahku memanggil dia Gates, karena dia suka sekali dengan penyanyi bernama Gareth Gates. Seingatku, hanya ada dua orang yang memanggilnya dengan panggilan “Nanik”, yaitu Mba Wastuti dan Dyanggih. Sedangkan temanku yang lain yang bernama Suprek memanggilnya dengan panggilan Mba Nanik. Dalam SMSnya itu, Tom menulis “You got a reward from Suprek”. Entah apa maksud SMS itu.

Suprek atau Supri adalah teman PPLku dan Tom sewaktu kami mengajar di SMA Negeri 1 Surakarta tahun 2009 lalu. Aku dan Tom berasal dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Sedangkan Supri dan sahabat karibnya Dyanggih, adalah mahasiswa praktikan Universitas Sebelas Maret dari jurusan Pendidikan Olahraga. Aku dan Tom menyebut mereka berdua sebagai Duo Gaptek Dyanggih dan Supri. Betapa tidak, di zaman modern seperti ini, yang bahkan laptop dimiliki dan dioperasikan hampir semua anak TK, justru sama sekali tidak dikuasai oleh mereka berdua. SAMA SEKALI! Ketika masa akhir PPL tiba, semua mahasiswa harus mengumpulkan laporan observasi tentang sekolah yang kami tempati. Tentu saja all must be computerized. Dan dua makhluk aneh itu menghabiskan hampir setiap waktu sore mereka di boarding house alias kostku untuk merayuku dan Tom agar membantu mereka mengerjakan laporan mereka. Karpet merah kesayangankupun harus rela digelar berhari-hari di ruang tamu sebagai alas tidur mereka ketika mereka lelah. Baru setelah jam dinding menunjukkan pukul 21.00, tanda waktu kunjung kost berakhir, mereka akan melenggang keluar dengan meninggalkan sisa makanan dan tempat yang berserakan. Ke-gaptekan Supri bahkan lebih parah. Di saat semua siswa sudah punya akun twitter dan facebook, Supri baru memiliki facebook beberapa bulan lalu. Itu saja tidak pernah di update.

Dyanggih adalah mahasiswa yang berasal dari Pati. Teman-teman memanggilnya Anggeh. Sedangkan aku lebih suka memanggilnya dengan sebuat “Dy”, karena lebih simple.  Anaknya lumayan ramah dan suka menolong. Suka berbicara dengan memakai bahasa Inggris yang kacau balau. Tingkah lakunya lumayan dewasa, mungkin karena dia adalah anak sulung di keluarganya. Satu kebiasaanya yang tidak pernah bisa kulupakan adalah dia suka sekali tidur di sembarang tempat. Dia bahkan pernah meninggalkan bekas pulau buatan di karpet merah kesayanganku. Aku juga masih menyimpan fotonya yang tertidur lelap di ruang PPL. You look so cute in that pic, pal.

Sedikit berbeda dengan Dyanggih, Supri merupakan manusia yang sedikit menyebalkan menurut Tom, menurutku biasa saja. Dia berasal dari kota yang sama dengan Tom, Sukoharjo. Tidak dapat kupungkiri, anak itu memang sedikit sok dan “kemaki”, tapi pada dasarnya dia lumayan baik dan punya kebiasaan aneh. Aku masih ingat ketika sore itu dia ke kostku dengan memakai kaos kaki dan sandal berwarna pink. Dia juga memakai kotak pensil yang lucu, seperti yang dimiliki oleh kebanyakan anak perempuan. Kata Tom, kotak pensil itu masih ada sampai sekarang. Tulisannya juga sangat rapi, bahkan lebih rapi dari tulisanku yang sudah terkenal sebagai tulisan paling rapi seantero negeri (opiniku sendiri, hehehe). Anak ini suka sekali pada warna merah. Sepeda motornya, kaos olahraganya, sepatunya, semua berwarna merah. Aku bahkan belum pernah melihat Supri mengenakan kaos lain selain warna merah, entah saking banyaknya kaos merah atau dia memang hanya punya satu. Hehehe. Tapi, makhluk aneh ini sungguh sangat setia pada sahabatnya yang bernama Dyanggih. Beberapa kali dia bersungut-sungut di depan kami, melaporkan kelakuan Dyanggih yang hobi sekali molor. Dia jemput Dyanggih ke sekolah pukul enam, tapi si Anggeh ini masih nyenyak bermimpi. Tentu saja Supri harus menungguinya mandi sampai melahap sarapan sama seperti seorang cowok yang menanti kekasihnya berdandan. Dan hal ini terjadi berulang kali. Tapi meski seringkali mengeluh, toh Supri tetap saja menjemput Dyanggih dan mengulangi keluhannya pada kami.

Bnayak hal lucu tentang mereka yang masih berputar-putar di memoriku sampai sekarang. Contohnya tentang istilah “lele”, “nggapleki”, dan “nggateli” yang mereka ajarkan padaku dan Tom. Ketika mengumpat, Dyanggih suka sekali menggunakan istilah “lele”. Sedangkan Supri, lebih sering mengatakan “nggateli” dan “nggapleki”. Entah apa arti istilah itu. Sampai sekarang aku tidak pernah tahu. Satu hal lucu lain tentang mereka adalah ketika mereka berdua masuk tergopoh-gopoh ke ruang PPL di SMA 1 dalam kondisi panik dengan keringat yang tak henti-hentinya mengalir dari leher Supri. Dyanggih berusaha menenangkan sahabat sejatinya itu. Ketika Tom bertanya apa yang terjadi, mereka berdua, dengan nada ketakutan bercerita bahwa ketika mereka mangajar, seorang siswa cedera. Entah apa yang mereka lakukan hingga katanya membuat kepala siswa itu berdarah-darah. Dari ceritanya, sepertinya keadaan siswa itu biasa saja. Tapi dasar Dyanggih-Supri ini orangnya super duper lebay, hal semacam itu sempat membuat adrenalin kami terpacu keras, melebihi keseraman film Suster Ngesot atau Hantu Casablanca. Kelakuan duo ini, terutama sifat kemaki Supri, tentu saja membuat Tom berang. Selama ini, teman kami di program studi (prodi) Bahasa Inggris semuanya normal. Tapi di sisi lain belahan bumi ini, ternyata ada manuasia yang benar-benar “weird” seperti mereka.

Kembali lagi ke SMS dari Tom yang baru saja kubaca. Sekarang ini, aku merasa akhirnya perseteruan searah antara Tom dan Supri sudah hampir usai (akhirnya…). Kusebut perseteruan searah karena nampaknya hanya Tom yang sering keberatan dengan kelakuan Supri, sedang Supri malah semakin gencar menggoda kalau Tom terlihat marah. Dari SMS Supri beberapa hari lalu yang mengatakan mereka punya proyek bersama, juga telah mengindikasikan kalau mereka tidak keberatan terlibat dalam satu pekerjaan. Masih segar dalam ingatanku tentang berbagai kejadian kebencian Tom pada Supri dua tahun lalu. Saking bencinya, Tom (dan juga aku) suka menyebut Supri sebagai salah satu lakon game bernama Poke yang setiap hari kami mainkan. Saat itu, semua mahasiswa PPL di SMA 1 terkena syndrome game poke, kami menyebutnya. Kalau kami sedang tidak ada tugas, dapat dipastikan kami akan nongkrong di depan laptop atau komputer ruang PPL untuk menyelesaikan game poke bersama. Sebenarnya tidak semua. Hanya aku, Tom, Tutur, Khitna, Dyanggih, dan Supri saja yang tergila-gila dengan game ini. Tutur dan Khitna adalah dua orang mahasiswa genius dari prodi Matematika. Karena kejeniusan itu, mereka kami paksa untuk membantu permainan. Selain kami, semua normal dan menjalankan tugas dengan penuh tanggungjawab. Mereka bahkan tidak sempat menyambangi file atau program berbau game atau sejenisnya. Nah, di game poke ini ada seekor lakon berwujud monyet. Kami berdua, Tom dan aku, suka sekali cekikikan setiap melihat ikon game ini. Kami merepresentasikan monyet ini sebagai Supri di dunia game. KEJAMNYA! Ini juga salah satu alasanku beberapa hari yang lalu mengirimi SMS permohonan maaf. Dosaku dan Tom di masa lalu cukup membuat kami berlama-lama di neraka kelak. Hehe, peace…Supri!

Pertemanan erat antara Tom dan aku dengan duo gaptek Dyanggih dan Supri memang hanya enam bulan selama masa PPL saja (bayangkan, kami berdua melewati masa-masa menyedihkan bersama duo gaptek yang payah selama enam bulan, padahal PPL universitas di kotaku hanya PPL selama dua bulan) memang tidak selalu menyenangkan. Namun, kenangan aneh bersama mereka cukup bisa membuatku tersenyum bila mengingatnya. Kadang juga membuatku bisa menangis merindukan mereka karena mustahil bagi kami untuk mengulangi masa pergi membunuh (baca: go kill) kami dulu. Dyanggih saat ini tinggal di Jakarta, menjadi seorang guru olahraga di sebuah sekolah dasar bertaraf internasional. Tom tinggal di Wonoharjo, sebuah tempat perbatasan antara Sukoharjo dan Wonogiri, tempat asalnya. Aku tinggal di kota asalku juga, Purworejo Berirama. Sedangkan Supri, entah hidup di mana. Meski aku masih menyimpan nomor handphonenya, rasanya enggan untuk bertanya. Well, you must know guys, I miss you much. I luph u all. ^_^

IHT 2019

download here: https://drive.google.com/file/d/1lcitNhP0T9GSS7mMimlo9hpthf-Cn4Id/view?usp=sharing