Tampilkan postingan dengan label Kristin Rahayu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kristin Rahayu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Februari 2019

HUNTING TOURIST SMK TKM TEKNIK PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Dalam rangka menyambut bandara baru NYIA (New Yogyakarta International Airport) yang rencananya akan beroperasi di akhir 2019, SMK TKM Teknik Purworejo menyelenggarakan ektra kurikuler bahasa asing yaitu bahasa Inggris. Salah satu kegiatan yang dilakukan dalam ekstra kurikuler tersebut adalah kegiatan hunting tourist. Hunting tourist merupakan perjalanan yang dimaksudkan untuk menyelenggarakan perburuan wisatawan asing dengan maksud untuk mempraktekkan kemampuan berbicara bahasa asing yang mereka miliki, dalam hal ini adalah bahasa Inggris.

Kegiatan Hunting Tourist ini dilakukan pada hari Rabu, 19 Desember 2018. Tempat pelaksanaan kegiatan ini adalah salah satu tempat wisata yang terkenal di Yogyakarta yaitu Jalan Malioboro. Pertimbangan memilih tempat ini sebagai lokasi kegiatan hunting tourist adalah banyaknya wisatawan asing yang berwisata di Malioboro. Kegiatan ini diikuti oleh 13 siswa anggota ekstra kurikuler bahasa Inggris.

Inti dari kegiatan Hunting Tourist ini adalah siswa mempraktekkan kemampuan berbicara bahasa Inggris mereka dengan turis asing. Materi yang dibicarakan adalah perkenalan, asal negara, keluarga, cuaca, tujuan wisata mereka di Indonesia, dan tempat wisata yang mereka kunjungi. Di akhir kegiatan, siswa diminta melakukan wefie bersama para turis yang mereka temui dan membuat laporan tentang isi percakapan yang mereka lakukan kepada guru pengampu.

Hasil akhir dari kegiatan ekstra kurikuler bahasa asing ini adalah siswa mampu berbicara bahasa Inggris dengan baik dengan para native speaker dari mancanegara. Melalui kegiatan Hunting Tourist, siswa lancar berbahasa Inggris karena praktek secara langsung dengan para wisatawan asing. Dengan demikian, lulusan SMK TKM Teknik Purworejo siap menyongsong beroperasinya NYIA (New Yogyakarta International Airport).

Selasa, 29 Januari 2019

MENYUSUN SOAL PILIHAN GANDA YANG BAIK DAN BENAR

Tes adalah salah satu alat yang dapat dipakai oleh guru untuk mengukur kemampuan siswa. Ada beberapa jenis tes yang biasa dipakai oleh guru di sekolah seperti pilihan ganda, mengisi titik-titik (blank space), essay, dll. Pilihan ganda adalah salah satu jenis tes yang paling sering dipakai karena dianggap lebih praktis dan objektif dilihat dari segi penilaiannya. Akan tetapi, membuat butir soal yang baik bukanlah hal yang mudah. Ada banyak aturan yang harus diikuti agar butir soal yang dihasilkan menjadi butir soal yang benar-benar bermutu.


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menyusun soal pilihan ganda, antara lain:
1. Ketika dalam soal ada kata “TIDAK” atau “KECUALI”, kata tersebut harus dalam dicetak dalam bentuk bold atau bergarisbawah.
Contoh : Di bawah ini merupakan contoh hasil bumi, kecuali …
Atau : Di bawah ini merupakan contoh hasil bumi, kecuali …
2. Jangan membuat option jawaban “Semua benar”. Saat seorang pembuat naskah soal terpaksa menggunakan option jawaban ini sebagai salah satu option dalam pilihan ganda, jangan jadikan pilihan ini sebagai jawabannya.
3. Panjang masing-masing option jawaban kurang lebih sama. Hal ini penting untuk dilakukan karena saat panjang option jawaban tidak sama, siswa akan cenderung memilih option yang paling panjang sebagai jawaban dari soal yang mereka kerjakan.
4. Ketika menggunakan blank space (mengisititik-titik), akan lebih baik untuk menempatkan blank space tersebut di bagian akhir soal, bukan awal soal
5. Gunakan kalimat soal yang efektif, efisien, dan tidak terlalu panjang
6. Memiliki 4 atau 5 option jawaban. Option jawaban yang terlalu sedikit akan membuat siswa terlalu mudah menjawab soal. Sebaliknya, option jawaban yang terlalu banyak akan membuat siswa kesulitan dalam menjawab soal.
7. Pikirkanlah jawaban yang mungkin akan dipilih siswa sebagai pengecoh
8. Untuk option jawaban yang mengandung angka, option jawaban sebaiknya diurutkan dari yang terkecil ke terbesar

Contoh soal yang kurang baik:
1. Paragraph pertama membicarakan …
A. Tentang bahan pembuatan kue donat
B. Tentang alat pembuatan kue donat
C. Tentang langkah pembuatan kue donat
D. Tentang hasil pembuatan kue donat
Akan lebih baik jika soal dibuat menjadi:
Paragraph pertama membicarakan tentang …
A. Bahan pembuatan kue donat
B. Alat pembuatan kue donat
C. Langkah pembuatan kue donat
D. Hasil pembuatan kue donat

2. Buku merupakan jendela informasi dunia. Oleh karena itu, hamper setiap sekolah mempunyai perpustakaan yang di dalamnya menyimpan banyak buku. Di bawah ini adalah manfaat membaca buku, yaitu …
Akan lebih baik jika soal dibuat menjadi lebih ringkas dan sederhana seperti:
Di bawah ini adalah manfaat membaca buku, yaitu …

3. Jumlah dari photoreceptor di retina mata manusia kurang lebih antara …
A. 115 juta
B. 5 juta
C. 65 juta
D. 35 juta
Akan lebih baik jika option butir soal disusun menjadi lebih urut, diurutkan dari yang terkecil ke terbesar:
Jumlah dari photoreceptor di retina mata manusia kurang lebih antara …
A. 5 juta
B. 35 juta
C. 65 juta
D. 115 juta

4. … adalah vitamin yang sangat berperan dalam pembentukan tulang dan gigi manusia
A. Vitamin A
B. Vitamin B
C. Vitamin C
D. Vitamin D
E. Vitamin K
Akan lebih baik jika titik-titik diletakkan di bagian akhir soal seperti di bawah ini:
Vitamin yang sangat berperan dalam pembentukan tulang dan gigi manusia adalah …

Sumber:
Osterlind, Steven J. 2002. Constructing Test Item. Columbia: University of Missouri
Sumardi. 2013. Power Point Presentation: The Principles of Constructing Test. UNS: Unpublished
https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fbanner2.kisspng.com%2F20180615%2Fqjf%2Fkisspng-test-student-education-school-learning-alumnos-5b247eee771db0.8108051015291184464879.jpg&imgrefurl=https%3A%2F%2Fid.kisspng.com%2Fpng-4f59w4%2F&docid=nD283GIdWQQa-M&tbnid=uutCWz2XNTHxFM%3A&vet=10ahUKEwj7kPu92ZTgAhUVTI8KHXH9BjMQMwhiKBQwFA..i&w=900&h=640&safe=strict&client=firefox-b&bih=654&biw=1366&q=test%20kartun&ved=0ahUKEwj7kPu92ZTgAhUVTI8KHXH9BjMQMwhiKBQwFA&iact=mrc&uact=8


Salam,
Miss Kristin Rahayu

Senin, 17 September 2018

TIPS HIDUP BAHAGIA


1. Tidak usah terlalu peduli urusan oranglain
Alasan pertama adalah karena dosa. Untuk apa sibuk mengurusi urusan orang lain? Masing-masing dari kita memiliki cacat dan kelemahan. Tentunya kita juga ga mau kelemahan kita diumbar dan dibahas oleh khalayak ramai kan?

2. Sibuklah dengan hobi dan aktifitas masing-masing yang positif
Hobi yang positif akan membuat hidup kita bahagia. Kenapa? Because we have something to do.

3. Grup hanya untuk bersenang-senang
Dalam sebuah grup, ada beragam karakter manusia. Terlalu aktif di grup akan membuat kita bersentuhan dengan orang yang mungkin bedaa visi dengan kita. Kadang, adu argumen terjadi hanya karena hal sepele. Jadi pusing lah. Jika ada anggota yang "nyolot", cukup senyumin aja. No matter what, haters gonna hate.

4. Curhat hanya kepada orang yang bisa dipercaya, yang sevisi.
Sahabat itu, meskipun kadang sering marahan sama mereka, adalah orang yang selalu kembali memotivasi saat kita terpuruk. Sahabat tidak pernah menjelekkan kita di belakang. Yang mereka lakukan adalah menasehati kita agar kita jadi sosok yang lebih baik. Jadi tak perlu marah saat mereka memarahi kita saat ada hal salah yang kita lakukan. Nah, saat kita kepepet harus curhat untuk mencari solusi masalah, pergilah ke mereka.

5. Berkumpul dengan orang-orang positif
Orang-orang positif akan membuat hidup kita selalu betmanfaat. Gak kebayang kan kalau kita dekat dengan sahabat yang hobi ngomongin jeleknya oranglain. Seumur hidup masa kita mau ghibah terus-terusan?

6. Be mysterious
Biarkan saja oranglain mau ngomong kita apa. Pokoknya anggap angin lalu saja, gak perlu ditanggapi apalagi kasi klarifikasi. Gak penting.

...bersambung

Salam dan Bahagia,
Kristin Rahayu

Selasa, 14 Agustus 2018

Meningkatkan Kemampuan Bahasa Inggris Menggunakan Lagu


Hampir seluruh orang menyukai musik. Pada hakekatnya, musik adalah seni menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan (mengandung irama). Ragam nada atau suara yang berirama disebut juga dengan lagu. Jadi musik ataupun lagu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan dapat digunakan sebagai sarana atau media dalam sebuah proses pembelajaran.

Menggunakan musik dalam pembelajaran bahasa Inggris tentunya sangat menarik dan menyenangkan. Tentunya, kita sudah tidak asing lagi dengan lagu-lagu berbahasa Inggris (western song). Lagu-lagu ini bisa dipakai untuk belajar bahasa Inggris. Untuk lebih memudahkan belajar bahasa Inggris, pilihlah lagu dengan lirik yang mudah dan dinyanyikan dengan tempo yang lebih lambat. Belajarlah untuk tidak hanya mendengarkan lirik lagunya saja dengan menjadi pendengar pasif. Selain menikmati musik, alangkah lebih baiknya jika mencari tahu arti lirik lagu yang didengar. Lagu dapat juga dipakai sebagai sarana untuk mempraktekkan ritme serta intonasi Bahasa Inggris, belajar kosakata, mempelajari grammar atau tata bahasa, belajar berbicara menggunakan Bahasa Inggris, belajar skill mendengarkan, dan mempertajam kemampuan menulis siswa dalam Bahasa Inggris (Orlova, 2003).

Melalui lagu, secara tidak langsung pendengar diajak untuk meningkatkan kemampuan mendengar dan penguasaan terhadap kosakata baru (vocabulary). Kita juga dapat mencari tahu arti kata yang tidak dipahami (unfamiliar words) dari lagu yang didengarkan. Kitapun dapat mengetahui struktur bahasa (grammar) dan cara menyusun dan merangkai kata. Selain itu, ikutlah menyanyikan lagu tersebut agar penguasaan pengucapan (pronunciation) lebih terlatih.

Lynch (2008) menjelaskan bahwa ada 3 kriteria lagu yang dapat dipakai sebagai media pembelajaran, yaitu:
1. Lagu tersebut merupakan lagu yang populer dan menarik untuk siswa. Lagu yang tidak menarik dan tidak popular tidak memberikan imbas positif bagi ketertarikan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
2. Lagu tersebut memiliki lirik yang mudah dimengerti oleh siswa
3. Lagu tersebut memiliki tema yang sesuai untuk kegiatan pembelajaran

Griffe (1992: 4) menyebutkan beberapa manfaat lagu sebagai media pembelajaran, antara lain:
1. Lagu dapat menciptakan atmosfir kelas yang menarik
2. Lagu membuat suasana kelas menjadi lebih rileks
3. Lagu bisa dipakai untuk menjelaskan budaya asal lagu tersebut secara tidak langsung
4. Lagu bisa dipakai sebagai teks bacaan untuk ditelaah dan dipakai menjadi sumber bacaan seperti teks yang lain.

Contoh prosedur penggunaan lagu sebagai media belajar Bahasa Inggris:
1. Dengarkankan lagu
2. Baca lirik. Di step ini, kita secara tidak langsung mempelajari dua poin dalam Bahasa Inggris, yakni ketrampilan mendengarkan (listening skill) dan pembelajaran pengucapan (pronunciation)
3. Fokuskan ke pokok penting yang hendak dipelajari. Misalnya, pada saat kita hendak mempelajari Adjective, maka fokuskan pembelajaran pada beberapa kata sifat atau adjective yang terdapat pada lagu tersebut.
4. Carilah makna dari unfamiliar words atau kata-kata baru yang belum kita ketahui artinya. Di step ini, secara tidak langsung kita belajar kosakata (vocabulary)
5. Cobalah untuk memparafrase atau meringkas isi dari lagu. Di step ini, kita menggunakan lagu sebagai teks untuk ditelaah isinya.
6. Nyanyikan!
Bila kita sudah lancar dengan lagu-lagu tempo lambat, pilihlah lagu dengan lirik yang agak susah dengan tempo lebih cepat. Dengan demikian, seiring waktu dan proses yang berlangsung, penguasaan berbahasa Inggris kita bertambah. SELAMAT MENCOBA!

By : Ms. Kristin Rahayu

Daftar Pustaka:
Griffe, Dale T. 1992. Songs in Action. UK: Prentice Hall International Ltd.
Lynch, Larry M. (2008). Using Popular Songs to Improve Language Listening Comprehension Skills. http://esl4free.blogspot.com/2008/02/can-music-improve-your-students.html
Orlova, Natalia F. (March 2003). Helping Prospective EFL Teachers Learn How to Use Songs in Teaching Conversation Classes. The Internet TESL Journal. http://iteslj.org/Technoques/Orlova-Songs.html

Rabu, 12 Agustus 2015

KERJA KERAS, KERJA CERDAS, KERJA IKHLAS

“Bekerja keras itu menghasilkan, bekerja cerdas itu melipatgandakan, dan bekerja ikhlas itu menenteramkan” (Jamil Azzaini)
Untuk meraih kesuksesan, manusia dituntut untuk selalu bekerja keras dalam melaksanakan kewajibannya. Namun, kerja keras saja belum cukup. Ada kalanya, apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya “bekerja ikhlas”. Namu, bekerja keras dan bekerja ikhlas saja belum cukup untuk membuat seseorang “puas” dengan hasil yang dicapainya. Kerja keras, cerdas dan ikhlas merupakan perpaduan yang harmonis dari setiap unsur kemanusiaan dalam diri manusia. Padu yang berarti tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Kerja keras yang berasal unsur jasmani, kerja cerdas yang bersumber dari penggunaan akal, dan kerja ikhlas yang berawal dari hati.
1. Kerja keras.
Segala hal yang dikerjakan dengan setengah hati tidak akan pernah mendapatkan hasil yang maksimal. Agnes Monica, artis multitalenta yang begitu terkenal itu menghabiskan lebih dari 14 jam waktunya dalah satu hari untuk terus berlatih menyanyi dan menari. Lihatlah hasil kerja kerasnya. Tariannya, suaranya, perfecto! Bandingkan saja dengan kita. Mungkin kerja atau belajar 6 jam sehari saja sudah membuat kita mengeluh sepanjang hari.
2. Kerja cerdas.
Cerdas. Kerja cerdas menuntut kita untuk bekerja sesuai prosedur yang benar dan tidak asal-asalan. Kerja cerdas adalah usaha yang terarah untuk mendapatkan hasil dengan menggunakan mesin kecerdasan sebagai upaya meningkatkan prestasi. Cirinya: mampu meningkatkan skala waktu, mengefektifkan sistem, mengkapitaliasi aset, menempa orang dan memperlancar keadaan (Syuhada, 2012)
3. Kerja ikhlas.
Saat orientasi kerja kita hanya materi, maka yang kita dapatkan hanya materi melimpah tanpa berkah yang mudah lenyap. Niatkanlah setiap usaha sebagai ibadah, maka langkah yang kita lakukan akan menjadi ringan tanpa beban. Selama ini bila kita mendengar istilah kerja dengan ikhlas, biasanya hanya dikaitkan dengan kerja yang sifatnya sukarela, tidak berbayar, pengabdian dan lain sebagainya. Padahal, ikhlas tidak ada hubungannya dengan berbayar atau tidak berbayar. Ikhlas adalah mengerjakan segala sesuatu hanya mencari keridlaanNya, bila Dia meridloi apa yang kita lakukan – tidak ada lagi yang perlu kita khawatirkan di dunia ini (Iqbal, 2013).
So, finally?
Yang perlu kita lakukan hanyalah berusaha, berdoa, dan serahkan hasilnya kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Tidak perlu mengeluhkan betapa beratnya hidup kita atau betapa sedikitnya hasil yang kita dapat. Dan pada akhirnya, kalau kita merasa perjuangan kita tidak pernah mendapat balasan sesuai keinginan kita, ingatlah wejangan dari Bibi May-nya Peter Parker dalam film Spiderman “Teruslah berbuat baik. Jika kau tidak mendapatkan hasil dari kerja kerasmu, niscaya kamu akan mati dengan bangga karena selalu dikenang sebagai orang baik.” You only have to remember one thing: Jika selama ini Tuhan belum mengabulkan semua doamu, bukan berarti Dia tidak sayang kepadamu. Dia hanya memiliki rencana lain yang lebih indah untukmu. Selamat bekerja.

Referensi:
Iqbal, Muhaimin. 2013. Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas. Retrieved from: http://geraidinar.com/index.php/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/81-gd-articles/entrepreneurship/1271-kerja-keras-kerja-cerdas-dan-kerja-ikhlas
Syuhada, Adji. 2012. Kerja Keras, Kerja Cerdas, dan Kerja Ikhlas. Retrieved from:http://www.rmbiografi.com/06/2012/kerja-keras-kerja-cerdas-dan-kerja-ikhlas/

Selasa, 09 September 2014

Psstt... Keep Silence!!!


Terkadang, pola pikir seseorang itu tercermin dalam tingkah laku dan perbuatannya. Sebagai satu contoh: Menurut saya, orang hamil itu merupakan anugerah dari Allah yang harus dijaga. That’s all. Selebihnya, terserah Allah. Namun, banyak orang yang terlalu sering melebih-lebihkan dengan mempercayai banyak mitos. Terlalu banyak nasihat justru membuatku semakin bertambah gerah. Kenapa harus percaya mitos? Tidak boleh mbatin ini itu. Tidak boleh mbatin anak-anak nakal, nanti anak kita ketularan jadi nakal. Wallahu Alam. Kalau menurut saya, serahkan semua pada Allah.

Pola pikir orang lemah juga terliha dari gayanya yang terlalu takut pada seseorang, entah itu atasan atau seseorang yang dihormati. Ha mbok biasa saja. Kita semua manusia biasa kok. Maka, saya biasanya lebih memilih menghindari kerumunan agar tidak terlalu banyak dikomentari oleh orang-orang jenis ini. Diam menjadi pilihan paling bijak. Tidak membalas pesan juga akan jadi alternatif menyenangkan. Daripada SMS atau BBMan tapi jengkel juga melayani orang-orang jenis ini. Fyuhhh... Sabarkan aku ya Allah...

Sabtu, 23 Agustus 2014

PERJALANAN THESISKU


Akhirnya aku bisa tersenyum lega. Perjalanan di jenjang Pascasarjana ini selesai sudah. Ini bukan perjalanan super mulus seperti yang disangkakan orang-orang. Bebagai halangan, malam-malam berat, dan hari-hari yang melelahkan selalu adalah jalan yang harus kulalui saat aku menjalani statusku sebagai mahasiswa Pascasarjana ini.

Thesis aku kerjakan setiap hari. Senin pagi aku ke Solo. Seperti biasa dengan menggunakan Prameks pagi. Hal ini berlangsung selama kurang lebih 8 bulan. Pernah suatu kali aku ketinggalan kereta. Bukan ketinggalan kereta tepatnya, tetapi kehabisan tiket sehingga aku tidak bisa datang tepat waktu untuk menemui dosen pembimbingku, Dr. Ngadiso, M.Pd. Pernah juga aku menumpang bus malam. Sopirnya adalah seorang bapak yang sangat baik hati, sehingga beliau mengantarku tidak sampai Terminal Tirtonadi seperti bus lain, tetapi langsung diantar sampai depan gerbang kampus UNS. Pernah juga kotaku kebanjiran sehingga tidak ada bus yang lewat. Walhasil, aku telepon rumah untuk minta diantar ke Solo demi bertemu dosbing satuku, Prof. Dr. Joko Nurkamto, M.Pd. Pokoknya, apapun kulakukan demi bertemu dengan dosen pembimbingku.

Selasa pagi atau Senin sore, aku kembali lagi ke Purworejo. Ada kewajiban yang harus aku penuhi di kota ini: Mengajar. Jadwalku meliputi 50 jam pelajaran. Mengajar 40 jam, 5 jam sebagai wali kelas, dan 5 jam sebagai Pembina OSIS. Selasa sore dari jam 4 sampai dengan setengah 6 aku harus mengajar di kelas XI TP B. Hari Rabunya aku mengajar 10 jam. Itu berarti aku harus mengajar di 5 kelas. Full dari pukul 7 sampai dengan pukul 15.00. Sore hari, biasanya aku harus menunggui kelas yang berlatih upacara. Hmm.. Tanggung jawab sebagai Pembina Osis ini cukup memberatkanku, sebenarnya. Pukul 17.00, biasanya aku baru bisa pulang. Langsung mandi, dan tidur. Tengah malam biasanya aku akan terbangun. Tentu saja teringat pada nasib thesisku yang harus segera kuselesaikan.

Kamis adalah hari yang paling berat. Pasalnya, aku punya 12 jam mengajar yang harus dijalankan. Dari pukul 07.00, aku sudah berdiri di depan para siswa, menemani mereka belajar sampai nanti pukul 17.30.

Jam mengajarku yang lumayan ringan ada di hari Jumat. Hanya 4 kelas saja. Jadi, aku hanya stay di sekolah dari pukul 07.00 sampai pukul 15.00. Itu kalau tidak ada latihan upacara. Kalau ada, aku harus menunggui mereka dan dengan “terpaksa” harus tinggal lagi sampai pukul 17.30.

Sabtu tidak berbeda dengan hari lain. Sebelum pukul 07.00 tepat, motorku pasti sudah terparkir di lapangan parkir sekolah. Dan motor itu baru akan pindah dari tempatnya setelah pukul 15.00. Ada 5 kelas yang menungguku di hari Sabtu.

Bukan hari yang ringan. Saat itu, rasanya wujudku sudah berubah seperti zombie. Boro-boro main atau jalan-jalan, waktu untuk tidur pun berasa sangat kurang. Untungnya, sekarang sudah berlalu. :)

Rabu, 05 Februari 2014

HINDARI KEGAGALAN MELALUI MANAJEMEN WAKTU


 “Jika kita gagal merencanakan, berarti kita sedang merencanakan kegagalan”

 
Dalam menjalani roda kehidupan, manusia hanya memiliki sebuah siklus yang berujung hanya pada dua hal: SUKSES atau GAGAL. Pada dasarnya, Allah yang Maha Kuasa sudah memberikan modal yang adil pada setiap insan-Nya. Semua hamba-Nya, baik yang kaya maupun yang miskin, yang pandai maupun yang bodoh, diberi waktu yang sama: 24 jam dalam seharinya. Lalu, apa yang membuat orang itu berahkir dengan kata pandai atau bodoh, miskin atau kaya? Jawabannya adalah manejemen waktu. Semakin baik kita mengelola waktu, maka semakin baik kehidupan kita. Semua orang yang gagal sudah pasti merupakan orang yang gagal merencakan hidup mereka sendiri.


Menurut sebagian orang, waktu sehari 24 jam adalah waktu yang sangat lama. Namun sebaliknya, sebagian orang yang menganggap bahwa mereka memerlukan waktu lebih banyak lagi agar dapat mengerjakan semua tugas mereka. Banyak siswa yang mengatakan bahwa mereka sangat sibuk. Mereka bahkan tidak memiliki waktu untuk sekedar menengok PR mereka. Padahal kenyataannya, mereka memiliki waktu yang sangat longgar untuk membuka akun Facebook maupun berlama-lama di depan computer untuk main video games. Pada saat sudah deadline tugas, barulah mereka kalangkabut dan mngerjakan tugas/belajar ala kadarnya. Nah, disinilah alasan terbesar mengapa seseorang harus memiliki menejemen waktu yang baik.

Beberapa manfaat yang akan kita dapatkan dari menajemen waktu antara lain:

1.     Full Spirit!! Kita akan selalu bersemangat menjalani hidup

2.     Hidup kita menjadi seimbang, baik itu pekerjaan/pendidikan, keluarga dan refreshing

3.     Kita dapat mencapai impian kita

4.     Selalu termotivasi untuk action!

5.     Terhindar dari stress, pusing dan depresi

6.     Tugas dapat selesai tepat waktu

Nah, untuk mendapatkan manfaat itu, mulai detik ini belajarlah untuk memiliki perencanaan waktu yang baik. Ada beberapa hal yang perlu dikerjakan agar semua kegiatan yang perlu dilakukan dapar terlaksana tanpa mengganggu proses pelakasanaan kegiatan yang lain. Di bawah ini dijabarkan beberapa cara sederhana dalam memanfaatkan waktu

1. Sediakan waktu khusus untuk mengerjakan tugas atau belajar

Dalam waktu sehari, buatlah jadwal rutin untuk belajar atau menyelesaikan tugas. Jangan terlalu lama memberi alokasi waktu, karena terlalu lama berkutat dengan tugas justru akan menimbulkan beban bahkan stress. Sedikit demi sedikit, tapi teratur dan benar-benar direalisasikan.
 
2. Usahakan untuk memiliki tempat khusus

Beberapa kegiatan (misalnya belajar) membutuhkan tempat khusus agar tidak mudah “diganggu” orang lain. Carilah tempat nyaman dan paling disukai. Satu hal yang perlu dipertimbangkan: ada kalanya, jauhi kamar tidur, karena belajar di kamar hanya akan membuat kita mengantuk dan lupa pada tugas kita.

3. Review dan catat tugas mingguan di tempat yang sering dilihat

Kadang, kita lupa dengan tugas yang harus diselesaikan. Sebagai bentuk antisipasi, cobalah untuk mulai menuliskan semua tugas dalam sebuah catatan dan menempatkannya di tempat yang paling sering kita lihat. Notes kecil adalah salah satu alternative yang bisa dipakai. Jika kita sering membuka laptop, tidak ada ruginya kalau kita menuliskan tugas kita di program Sticky Notes dan memajangnya di layar desktop. Jika jarang membuka laptop atau malas menulis di notebook, menuliskan daftar antrian tugas di HP adalah pilihan yang bijaksana. Tujuannya hannya satu: membuat kita senantiasa ingat pada tugas! J

4. Buatlah skala prioritas         

Bila ada banyak hal yang harus dikerjakan, buatlah daftar kegiatan yang harus diselesaikan. Urutkan setiap tugas dalam urutan 1, 2, 3, dan seterusnya berdasarkan kepertingan atau deadline-nya. Laksanakan tugas yang paling penting terlebih dahulu, baru kemudian tugas no 2 dan seterusnya sampai selesai. Skala prioritas ini akan membuat kita bisa menyelesaikan tugas sesuai jadwal, dan menghindari stress.

5. Luangkan waktu untuk bersenang-senang

Manusia memiliki batas kemampuan. Jangankan kita, computer-pun akan jebol apabila dinyalakan non-stop tanpa jeda. Oleh karena itu, otak dan badan membutuhkan waktu untuk beristirahat sejenak. Tidak usah terlalu memaksakan diri jika kondisi fisik memang sudah tidak memadai. Lakukan hal yang bisa mengembalikan semangat seperti minum kopi, membaca novel kesukaan, sekedar jalan-jalan ke mall, atau pergi ke taman.

6. Jangan membebani diri dengan tugas yang berlebihan

Kadangkalanya karena terlalu bersemangat, kita membuat program yang amat sangat sulit dilaksanakan. Misalnya, saat kita berencana untuk mendapatkan nilai 100 di ulangan Matematika, kita berencana untuk tidak tidur semalaman. Alih-alih dilaksanakan, kita malah sama sekali tidak melaksanakan program itu karena sudah lelah membayangkan betapa mengerikannya belajar Matematika dalam waktu 6 jam. Seandainya terlaksana pun, ilmu yang kita dapat tidak dapat diserap secara optimal karena belajar terlalau lama justru akan membaut otak buntu. Oleh karena itu, buatlah perencanaan yang simple, ringan, dan sederhana agar mudah dilaksanakan.

7. Temukan dan manfaatkan waktu sempit

Saat berangkat sekolah di bus adalah salah satu waktu sempit yang bisa dimanfaatkan untuk menengok tugas kita. Daripada 10 menit dibiarkan mengalir percuma, akan lebih bermanfaat apabila kita membaca buku pelajaran yang belum sempat dipelajari sebelumnya.

8. Jangan menunda! Lakukan secara bertahap, selesaikan satu per satu!

Semua rencana yang telah kita buat akan menjadi sia-sia dan percuma jika tidak ada realisasi. Maka, mulailah untuk tidak terbiasa menunda pekerjaan. Kerjakan tugas seawal mungkin, agar nanti kita tinggal bersantai. Ingat, mengerjakan banyak tugas ibarat menaiki anak tangga setinggi 100 m. Kita tidak mungkin menapaki anak tangga langsung dari 1 ke 100, tapi harus bertahap. Satu hal yang pasti: setapak demi setapak, kita PASTI SAMPAI.

Demikianlah paparan sekilas mengenai pentingnya menejemen waktu. Selamat mencoba. God bless you. Salam dan bahagia!

Kamis, 15 Agustus 2013

FINALLY, IT IS DONE!

“Kuliah lagi?” kalimat itulah yang pertama kali mengalir di otakku tatkala orangtuaku menghendaki aku melanjutkan studiku ke jenjang pascasarjana. Kuliah S2? Buat apa? Aku tidak begitu tertarik untuk berkutat lagi dengan segudang buku dan handout kuliah. Memikirkannya saja sudah membuat kepalaku pening. Ditambah lagi, aku juga bekerja. Bekerja diPurworejo lalu kuliah di Yogya/Solo? No way!

Singkat kata, akhirnya aku dinyatakan diterima di UNS, kampus tempatku menimba ilmu dulu di S1. Tanpa terasa, satu semester yang “berdarah-darah” pun telah kulewati bersama dengan teman-teman seperjuanganku di kelas Paralel 1B 2013. Tidak seperti kuliah di jenjang S1 yang berjalan mulus layaknya jalan tol Daendels di ujung selatan kota Purworejo, perjalanan kuliahku diwarnai dengan banyak noda dan rintangan yang cukup membuatku ambruk ke ruang klinik dokter Budi beberapa kali.

Let me explain my “hard journey”. Pertama, ada satu hal yang membuatku memilih UNS sebagai tempat kuliahku di jenjang S2: ada kelas parallel dua hari, sekali dalam dua minggu. Maka, ketika Kaprodiku mengumumkan tidak adanya kelas parallel saat kuliah perdana, kontan rasanya dunia mau kiamat. Terus aku piye?????? Padahal sudah terlanjur bayar untuk SPP semester 1. Kalau aku lanjut, berarti aku harus berhenti kerja (padahal belum tentu Kepsekku member izin. Scara pengunduran diriku bakal mendadak, ditengah-tengah tahun ajaran pula). Kalau tidak jadi kuliah, uang enam juta-kuhangus, hilang melayang. Satu minggu, dua minggu, aku dan teman-teman yang ngotot untuk tetap diadakan kelas pararel dengan terpaksa harus mengikuti perkuliahan dengan jadwal kuliah kelas regular: Kamis, Jumat, Sabtu. Untung saja, saat itu pas kebetulan tanggal merah. Minggu berikutnya, pas ada TUC Kabupaten. God saved me.

Tralala! Tiba-tiba ada keajaiban terjadi. Hari itu, aku ingat betul. Suatu sore yang ternyata memberi pencerahan bagi kami yang berjuang untuk kelas Paralel. Kelas Paralel jadi dibuka, asalkan ada 20 mahasiswa yang mendaftar. Well. Tidak sampai 20 mahasiswa yang mau. Sampai detik itu, 16:48, baru ada 19 mahasiswa yang mendaftar. Satu menit kemudian, satu mahasiswa bahkan malah mengundurkan diri. Rasanya perutku tambah mau muntah saja. Tiba-tiba, masuklah Pak Indro, mahasiswa dari Jogja, dan mengumumkan bahwa beliau dan Bu Madya, teman kuliah kami yang ternyata juga adalah istrinya akan masuk kelas Paralel. Akhirnya……… Genap 20 mahasiswa. Allah memang sudah mengatur jalan kuliah kami sedemikian rupa. Berliku, tapi happy ending di akhir kisahnya.

Rasa cemas dan kekhawatiranku tidak berhenti sampai hal itu saja. Di hari pertama kami mengawali kuliah kami dengan jadwal baru di kelas parallel, aku datang terlambat. Biasanya, aku naik keretapukul 04.00. Namun, saat itu kereta tidak juga datang. Padahal, jam tanganku sudah menunjukkan pukul 05.00. Kuliah Linguistics Mr Martono dimulai pukul 07.30. Walhasil, aku terlambat dua jam di kuliah pertama. Haha.

Bukan hanya itu saja. Setiap kali aku membaca semua status teman-temanku di kelas regular, aku hanya mampu menelan ludah dan merasa tak berarti apa-apa. Untuk mengerjakan projek video Academic Speaking dari Bu Dewi saja, mereka sampai menyewa aula Pascasarjana, membawa segala alat rekam canggih yang namanya-pun bahkan aku tak tahu. Sedangkan aku dan teman-teman di kelas parallel, hanya mebuat video dengan kamera digital ala kadarnya. Meski tidak seperti teman-teman yang mengambil shooting di kelas, aku menggunakan jasa murid-murid di sekolah sebagai objek seminar kecilku. Dengan pinjaman kamera dari UPHI sekolah, cameramen seorang toolman sekolah, dan editor oleh seorang guru Kimia, berjalanlah shooting videoku. (Mas Bud dan Ki Edy Riwayat, saya berhutang bud pada Anda berdua). Entah setan apayang menggangguku saat itu. Untuk meng-copy hasil video dari memory card kamera ke laptop saja, butuh waktu 4 JAM! Malam harinya, walau harus begadang sampai pagi, editan video-ku jadi. Alhamdulilaaaahhh.

Ada lagi satu kejadian bersejarah yang nyaris saja berbingkai darah ketika kuliah terkhir. Waktu itu aku harus berangkat ke Solo sendiri. Ndilalah, tak ada seorang-pun yang bisa mengantarkuke stasiun. Akhirnya, kubawa sendiri motorku. Apesnya, tiba-tiba tas dokumenku yang kucantolkan di cantolan motor samping kanan terjatuh. Padahal, dalam tas itu tersimpan semua dokumen kuliah, flashdisk, juga semua print out tugas. Jatuhnya,tepat di tengah jalan raya (soalnya saia suka ngebut, jadi jalan di tengah,niatnya kan biar cepat sampai gitcu...) Kontan saja kuberhentikan motorku ditengah jalan. Pikiranku hanya satu: SELAMATKAN TAS ITU. Tanpa kusadari, sebuahtruk container beroda 12 yang berisi berpuluh-puluh karung pupuk hampir sajamelindasku. AAAAAAGGGGGHHHHHHHH!!! Tapi tenang saja: AKU SELAMAT.

Setiap kali bertemu teman-teman lamaku (entah teman SMP atau SMA), selalu kudengar pertanyaan yang sama: Kok semakin kurus saja? Kadang, risih juga mendengarnya. Padahal,  aku juga sudah menghabiskan berkaleng-kalengsusu Weight Gain. Nyatanya, tanpa hasil. Dalam hati, aku selalu menggerutu setiap mendengar pertanyaan itu. Bagaimana mau gemuk? Setiap Minggu dan Senin, aku harus kuliah dari jam setengah delapan pagi sampai Sembilan malam. Pagiharinya, Selasa tepat pukul tujuh, aku harus sudah mengoceh di depan para siswaku sampai kurang lebih pukul tiga sore. Belum lagi kalau ada tugas. Hampir setiap hari harus begadang sampai pagi mengerjakan semua tugas itu. Dari semua tugasitu, ada satu makalah yang sampai membuatku berkunjung ke klinik Dokter Budi: FILSAFAT. Bukan sekali atau dua kali, tapi tiga kali. Kata dokter, aku stress hingga membuat-ku Insomnia. Bagaimana gak insomnia? Mau kukerjakan makalah itu, aku jelas gak bisa. Kalau kutinggal tidur, sama saja mataku terbayang-bayang wajah dosen GENIUSku yang tentu akan membabat habis makalahku tanpa sisa. Sepertinya, otakku hanyalah seperseratus isi otak beliau. Prof Joko. Tak peduli seberapa kuat badai menghempas negeri Indonesia, kisah hidup Anda akan selalumenginspirasi saya. Bahwa kita memang harus bekerja keras super keras (meski harus sampai jatuh sakit macam saya….) untuk mendapatkan hasil yang minimal mendekati sempurna.

Akhirnya, dengan ditemani I WON’TGIVE UP milik Jason Mras, lagu kebangsaanku di era pascasarjana ini, (lagu kebangsaanku di zaman S1 adalah Armada Masa Depan milik Ada Band, silakan download) dan secangkir kopi Good Day di hampir setiap malam, telah kulewati semester 1 kuliahku. Finally, it is done! Kukumpulkan lagi remahan-remahan semangatku untuk menjalani kuliah lagi di semester 2, 1 SEPTEMBER2013. Akhir semester 1 ini bukanlah akhir dari semua perjuangan kami. Gerilya ini masih akan terus berlanjut. Dan lagu milik Jason Mras itupun masih akan terus mengalun….

"I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up


'Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We've got a lot to learn
God knows we're worth it
No, i won't give up”


SEMANGAT! MARI BERJUANG LAGI, KAWAN!

Senin, 27 Agustus 2012

HANTU vs TUHAN

Pernahkah kalian melihat hantu? Kata nenekku, sewaktu muda dahulu beliau pernah dihadang kuntilanak di dekat pohon asam tua di tengah desa. Masa iya sih? Aku tidak percaya. Ibuku juga pernah bercerita kalau setiap akan nada orang meninggal, pohon bambu di belakang rumah pasti berbunyi “klotak klotak”. Tapi aku juga belum pernah mendengar bunyinya. Masih banyak lagi cerita lain yang menceritakan tentang keseraman hantu atau hal berbau klenik lain. Tapi masa iya sih? Manusia dan hantu kan punya dua dunia yang berbeda. Ngapain juga hantu ganggu kita? Kurang kerjaan banget kan. Opini pribadiku ini bertahan sampai suatu ketika…

Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta ke Purworejo. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 malam lebih kurasa. Aku sendirian, mengendarai motorku. Dari kota Purworejo sampai rumahku, aku masih harus menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit, karena rumahku berjarak 12 km dari pusat kota. Dari kota sampai pertigaan daerah bernama Maron, suasana masih biasa saja. Masih banyak lampu jalan dan rumah penduduk di area sepanjang jalan itu. Namun, jalanan mulai sepi ketika motorku mulai melaju dari arah desa Maron ke rumahku. Hmm, masih empat kilometer lagi baru aku bisa merebahkan badanku di kasur empukku.

Dari pertigaan desa itu, ada sebuah tempat yang kata orang dianggap sebagai tempat yang penuh misteri dan angker. Setono Segemblong. Setono adalah istilah yang diambil dari bahasa Jawa setempat yang artinya kuburan. Kuburan itu bernama Kuburan Segemblong, atau Setono Segemblong.

Perasaan takut dan was-was mulai menggerayangiku ketika aku memasuki daerah Jetak, kurang lebih 200 meter dari pertigaan Maron. Sebenarnya ketakutanku bukan berasal dari adanya hantu. Hari gini masa iya ada hantu, pikirku. Lagian kan aku naik motor, bisa langsung tancap gas kalau dikejar. Ya kan? Ketakutanku lebih berasal dari adanya rampok atau penjahat yang bisa saja menghadangku di jalan. Berkeliarannya makhluk cantik macam aku malam-malam seperti ini pasti kan mengundang bandit (eh eh eh, cantik ya…jadi batuk). Memasuki daerah Jetak, aku mulai menggigil kedinginan. Maklum saat itu hujan deras. Lampu rumah penduduk di sekitar daerah itu padam total, dan tidak ada lampu penerangan jalan di area itu. Busyet dah. Gelap banget. Seratus meter, dua ratus meter, dan akhirnya sebentar lagi aku akan melewati Setono Segemblong yang terkenal angker itu. Ketika aku melintas pas di depan gerbang kuburan itu, tiba-tiba motorku berhenti. Apaan lagi ini! Malah mogok. Pas di gerbang pula. Sialan, umpatku dalam hati. Aku pun turun dari motorku. Kutendang ban motor untuk melampiaskan kejengkelanku seperti dalam sinetron-sinetron di TV. Hujan belum kunjung reda. Daerah itu juga sepi, tak ada satu rumah pun yang berdiri di sekitar kuburan itu. Ya iyalah! Secara itu kuburan, masa mau dirikan rumah dekat-dekat situ, kayak tidak ada tempat lain aja. Kukeluarkan HPku, berniat menelepon bapakku, minta dijemput. Tapi  ternyata HP itu mati. Ingin rasanya aku berteriak minta pertolongan saat itu. Tapi mana ada orang lewatj jam segitu? Ini bukan kota metropolitan, bung! Aku terduduk di pinggiran jalan, berharap akan ada mobil atau kendaraan lain yang lewat, dalam kondisi HAMPIR menangis (seingatku, terakhir kali aku menangis adalah pas aku lahir, hehe). Rasanya seperti seratus tahun aku diam di sana. Tapi ternyata baru sepuluh menit. Tidak ada yang bisa kulakukan kecuali menunggu. Aku belum pernah mengalami hal yang namanya mogok di jalan sepi sebelum ini. Tiba-tiba, ada suara memanggilku.
“Motornya kenapa mbak?” seorang bapak separuh baya muncul. Entah darimana datangnya si bapak ini. Dia mengenakan sarung yang dikalungkan di lehernya, celana pendek tiga perempat seperti yang biasa dikenakan oleh orang Madura, sandal jepit, kaos warna gelap, dan peci hitam. Tangan kanannya menggenggam payung warna hitam. Kurang lebih penampilannya seperti itu. Aku lupa. Maklum saja, kejadiannya kan sudah dua tahun lalu.
“Mogok Pak, tidak tahu kenapa” jawabku sedikit lega karena akhirnya ada orang lewat. Bapak ini mungkin  adalah salah seorang warga yang sedang jaga ronda malam ini, pikirku.
“Sini saya bantu” si bapak itu langsung memeriksa motorku.
Kurang lebih lima menit setelah bapak itu melihat dan mengecek motorku, si motor yang kunamai Edgarda ini bisa menyala. Edgarda adalah kata yang berasal dari bahasa Anglo Saxon, kalau tidak salah, yang berarti pahlawan sejati.
“Alhamdulilah” batinku.
“Ini mbak, motornya sudah menyala. Saya permisi dahulu” kata si bapak itu berpamitan.
“Duh, terimakasih sekali Pak… Ini ada sedikit ongkos buat beli rokok untuk Bapak. Anggap saja sebagai ungkapan terimakasih dari saya” kataku sembari menyorongkan selembar uang sepuluh ribuan pada malaikat penyelamatku itu.
“Tidak usah Mbak. Rusaknya tidak parah kok. Saya permisi dulu” kata orang itu sambil berlalu pergi.
“Ya sudahlah. Tapi saya terimakasih sekali ya” jawabku setengah berteriak karena orang itu hamper lenyap ditelan pekatnya malam dan derasnya hujan. Lumayan, uangku yang sepuluh ribu tidak jadi melayang. Masih bisa kupakai untuk jajanku esok hari, hi hi hi.
Aku sudah bersiap-siap untuk men-starter motorku. Kucoba sekali, tapi kok tidak berhasil. Mati. Kugenjot starter manual di sebelah kanan kakiku. Tidak berhasil. Kuulangi lagi berkali-kali. Tetap tidak mau hidup juga. Kutolehkan kepalaku ke arah si bapak tadi menghilang. Rasanya dia berjalan kearah selatan.
“Paaakkk, tolong saya lagi Pak! Motor saya mogok lagi!” teriakku panik.
Tidak ada sahutan atau suara yang menjawabku. Aneh. Padahal belum ada semenit lalu si bapak itu pergi meninggalkanku. Kok sekarang sudah raib.

Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Entah apa yang membuat rasa takut yang begitu mencekam melandaku. Jangan-jangan si bapak tadi hantu!!! Aku tidak mau lagi duduk menunggu bala bantuan yang hendak membantuku seperti yang kulakukan tadi. Langsung saja kudorong motorku, balik lagi ke arah Maron. Daerah di sekitar itu memang tidak datar. Rumahku terletak di area yang lumayan tinggi, sehingga jika ada motor mogok atau kehabisan bensin bisa mendorong saja turun ke desa Maron tanpa perlu menghidupkan mesinnya. Tak kuasa lagi aku menahan rasa cemas dan takut di hati dan otakku. Pelan tapi pasti, motorku melaju ke bawah. Jantungku berdegup kencang tidak karuan. Sumpah aku ketakutan setengah mati. Sesampainya di pertigaan desa Maron, motorku hidup kembali. Hidup sendiri tanpa kuapa-apakan. Astaga naga! Apalagi ini? Tapi syukurlah ya Allah.

Kutata napasku selama lima menit. Kubaca basmalah dan ayat kursi. Lalu kuputar balik motorku. Kukumpulkan keberanianku untuk pulang. “Pulang” menjadi kata yang amat menyeramkan buatku. Bagaimana tidak? Kalau aku mau pulang, berarti aku harus melewati kuburan itu lagi. Bagaimana kalau motorku mogok lagi di tempat itu? Kubuang jauh-jauh pikiran itu. Kubulatkan tekad untuk melewati kuburan itu. Lalu dengan membaca doa, kulajukan motorku. Dan akhirnya…lima menit setelah saat itu…aku berhasil sampai di rumah. Dengan selamat.

Itulah pengalamanku. Nyata, bukan rekaan semata. Sampai saat ini, aku masih juga tidak tahu apakah si bapak yang menolongku itu manusia atau bukan. Tidak juga kupikirkan kuburan itu angker atau tidak. Yang jelas, setan itu memang ada. Mereka hidup berdampingan dengan kita. Tapi yakinlan, Allah selalu ada untuk melindungi kita, hamba yang sangat dicintai-Nya.

Minggu, 26 Agustus 2012

Duo Gaptek Dyanggih Supri


Diam. Sepi. Sunyi sekali rumahku hari ini. Padahal, hari ini masih merupakan hari ke-enam Idul Fitri. Dahulu kala, saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku biasa menghabiskan tujuh hari dalam tiap-tiap bulan Syawal untuk mengunjungi sanak saudara. Kegiatan itu terjadi di setiap bulan Syawal dulu sekali, kurang lebih lima belas tahun lalu, tentu saja bersama kedua orangtuaku yang galak tapi amat sangat kucintai (sorry, mommy J ). Namun saat ini, semua kebiasaan berubah 180 derajat. Memang sesuatu itu tidak pernah ada yang abadi. Laku kehidupan mengalir seperti perputaran roda. Dahulu, keluarga kami yang datang berkunjung. Namun sekarang, kami yang dikunjungi. Agak bosan memang buatku kalau hanya menunggu tamu seharian di rumah. Iseng iseng, kubuka handphoneku. Ada satu SMS dari Tom, teman kuliahku di universitas. Nama aslinya adalah Nanik Sri Retnaningsih. Namun, aku biasa memanggilnya dengan sapaan Tom, karena dia “tom”boy. Penampilannya tidak ubahnya seperti anak laki-laki. Sepatu kets, kaos oblong, tas ransel, dan topi. Dia suka sekali minum es. Kulitnya putih, pertama bertemu dengannya kupikir dia adalah seorang warga negara keturunan, dan wajahnya cantik. Tapi karena penampilannya yang tomboy ini,  beberapa temanku malah menganggap dia ganteng. Sebagian teman kuliahku memanggil dia Gates, karena dia suka sekali dengan penyanyi bernama Gareth Gates. Seingatku, hanya ada dua orang yang memanggilnya dengan panggilan “Nanik”, yaitu Mba Wastuti dan Dyanggih. Sedangkan temanku yang lain yang bernama Suprek memanggilnya dengan panggilan Mba Nanik. Dalam SMSnya itu, Tom menulis “You got a reward from Suprek”. Entah apa maksud SMS itu.

Suprek atau Supri adalah teman PPLku dan Tom sewaktu kami mengajar di SMA Negeri 1 Surakarta tahun 2009 lalu. Aku dan Tom berasal dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Sedangkan Supri dan sahabat karibnya Dyanggih, adalah mahasiswa praktikan Universitas Sebelas Maret dari jurusan Pendidikan Olahraga. Aku dan Tom menyebut mereka berdua sebagai Duo Gaptek Dyanggih dan Supri. Betapa tidak, di zaman modern seperti ini, yang bahkan laptop dimiliki dan dioperasikan hampir semua anak TK, justru sama sekali tidak dikuasai oleh mereka berdua. SAMA SEKALI! Ketika masa akhir PPL tiba, semua mahasiswa harus mengumpulkan laporan observasi tentang sekolah yang kami tempati. Tentu saja all must be computerized. Dan dua makhluk aneh itu menghabiskan hampir setiap waktu sore mereka di boarding house alias kostku untuk merayuku dan Tom agar membantu mereka mengerjakan laporan mereka. Karpet merah kesayangankupun harus rela digelar berhari-hari di ruang tamu sebagai alas tidur mereka ketika mereka lelah. Baru setelah jam dinding menunjukkan pukul 21.00, tanda waktu kunjung kost berakhir, mereka akan melenggang keluar dengan meninggalkan sisa makanan dan tempat yang berserakan. Ke-gaptekan Supri bahkan lebih parah. Di saat semua siswa sudah punya akun twitter dan facebook, Supri baru memiliki facebook beberapa bulan lalu. Itu saja tidak pernah di update.

Dyanggih adalah mahasiswa yang berasal dari Pati. Teman-teman memanggilnya Anggeh. Sedangkan aku lebih suka memanggilnya dengan sebuat “Dy”, karena lebih simple.  Anaknya lumayan ramah dan suka menolong. Suka berbicara dengan memakai bahasa Inggris yang kacau balau. Tingkah lakunya lumayan dewasa, mungkin karena dia adalah anak sulung di keluarganya. Satu kebiasaanya yang tidak pernah bisa kulupakan adalah dia suka sekali tidur di sembarang tempat. Dia bahkan pernah meninggalkan bekas pulau buatan di karpet merah kesayanganku. Aku juga masih menyimpan fotonya yang tertidur lelap di ruang PPL. You look so cute in that pic, pal.

Sedikit berbeda dengan Dyanggih, Supri merupakan manusia yang sedikit menyebalkan menurut Tom, menurutku biasa saja. Dia berasal dari kota yang sama dengan Tom, Sukoharjo. Tidak dapat kupungkiri, anak itu memang sedikit sok dan “kemaki”, tapi pada dasarnya dia lumayan baik dan punya kebiasaan aneh. Aku masih ingat ketika sore itu dia ke kostku dengan memakai kaos kaki dan sandal berwarna pink. Dia juga memakai kotak pensil yang lucu, seperti yang dimiliki oleh kebanyakan anak perempuan. Kata Tom, kotak pensil itu masih ada sampai sekarang. Tulisannya juga sangat rapi, bahkan lebih rapi dari tulisanku yang sudah terkenal sebagai tulisan paling rapi seantero negeri (opiniku sendiri, hehehe). Anak ini suka sekali pada warna merah. Sepeda motornya, kaos olahraganya, sepatunya, semua berwarna merah. Aku bahkan belum pernah melihat Supri mengenakan kaos lain selain warna merah, entah saking banyaknya kaos merah atau dia memang hanya punya satu. Hehehe. Tapi, makhluk aneh ini sungguh sangat setia pada sahabatnya yang bernama Dyanggih. Beberapa kali dia bersungut-sungut di depan kami, melaporkan kelakuan Dyanggih yang hobi sekali molor. Dia jemput Dyanggih ke sekolah pukul enam, tapi si Anggeh ini masih nyenyak bermimpi. Tentu saja Supri harus menungguinya mandi sampai melahap sarapan sama seperti seorang cowok yang menanti kekasihnya berdandan. Dan hal ini terjadi berulang kali. Tapi meski seringkali mengeluh, toh Supri tetap saja menjemput Dyanggih dan mengulangi keluhannya pada kami.

Bnayak hal lucu tentang mereka yang masih berputar-putar di memoriku sampai sekarang. Contohnya tentang istilah “lele”, “nggapleki”, dan “nggateli” yang mereka ajarkan padaku dan Tom. Ketika mengumpat, Dyanggih suka sekali menggunakan istilah “lele”. Sedangkan Supri, lebih sering mengatakan “nggateli” dan “nggapleki”. Entah apa arti istilah itu. Sampai sekarang aku tidak pernah tahu. Satu hal lucu lain tentang mereka adalah ketika mereka berdua masuk tergopoh-gopoh ke ruang PPL di SMA 1 dalam kondisi panik dengan keringat yang tak henti-hentinya mengalir dari leher Supri. Dyanggih berusaha menenangkan sahabat sejatinya itu. Ketika Tom bertanya apa yang terjadi, mereka berdua, dengan nada ketakutan bercerita bahwa ketika mereka mangajar, seorang siswa cedera. Entah apa yang mereka lakukan hingga katanya membuat kepala siswa itu berdarah-darah. Dari ceritanya, sepertinya keadaan siswa itu biasa saja. Tapi dasar Dyanggih-Supri ini orangnya super duper lebay, hal semacam itu sempat membuat adrenalin kami terpacu keras, melebihi keseraman film Suster Ngesot atau Hantu Casablanca. Kelakuan duo ini, terutama sifat kemaki Supri, tentu saja membuat Tom berang. Selama ini, teman kami di program studi (prodi) Bahasa Inggris semuanya normal. Tapi di sisi lain belahan bumi ini, ternyata ada manuasia yang benar-benar “weird” seperti mereka.

Kembali lagi ke SMS dari Tom yang baru saja kubaca. Sekarang ini, aku merasa akhirnya perseteruan searah antara Tom dan Supri sudah hampir usai (akhirnya…). Kusebut perseteruan searah karena nampaknya hanya Tom yang sering keberatan dengan kelakuan Supri, sedang Supri malah semakin gencar menggoda kalau Tom terlihat marah. Dari SMS Supri beberapa hari lalu yang mengatakan mereka punya proyek bersama, juga telah mengindikasikan kalau mereka tidak keberatan terlibat dalam satu pekerjaan. Masih segar dalam ingatanku tentang berbagai kejadian kebencian Tom pada Supri dua tahun lalu. Saking bencinya, Tom (dan juga aku) suka menyebut Supri sebagai salah satu lakon game bernama Poke yang setiap hari kami mainkan. Saat itu, semua mahasiswa PPL di SMA 1 terkena syndrome game poke, kami menyebutnya. Kalau kami sedang tidak ada tugas, dapat dipastikan kami akan nongkrong di depan laptop atau komputer ruang PPL untuk menyelesaikan game poke bersama. Sebenarnya tidak semua. Hanya aku, Tom, Tutur, Khitna, Dyanggih, dan Supri saja yang tergila-gila dengan game ini. Tutur dan Khitna adalah dua orang mahasiswa genius dari prodi Matematika. Karena kejeniusan itu, mereka kami paksa untuk membantu permainan. Selain kami, semua normal dan menjalankan tugas dengan penuh tanggungjawab. Mereka bahkan tidak sempat menyambangi file atau program berbau game atau sejenisnya. Nah, di game poke ini ada seekor lakon berwujud monyet. Kami berdua, Tom dan aku, suka sekali cekikikan setiap melihat ikon game ini. Kami merepresentasikan monyet ini sebagai Supri di dunia game. KEJAMNYA! Ini juga salah satu alasanku beberapa hari yang lalu mengirimi SMS permohonan maaf. Dosaku dan Tom di masa lalu cukup membuat kami berlama-lama di neraka kelak. Hehe, peace…Supri!

Pertemanan erat antara Tom dan aku dengan duo gaptek Dyanggih dan Supri memang hanya enam bulan selama masa PPL saja (bayangkan, kami berdua melewati masa-masa menyedihkan bersama duo gaptek yang payah selama enam bulan, padahal PPL universitas di kotaku hanya PPL selama dua bulan) memang tidak selalu menyenangkan. Namun, kenangan aneh bersama mereka cukup bisa membuatku tersenyum bila mengingatnya. Kadang juga membuatku bisa menangis merindukan mereka karena mustahil bagi kami untuk mengulangi masa pergi membunuh (baca: go kill) kami dulu. Dyanggih saat ini tinggal di Jakarta, menjadi seorang guru olahraga di sebuah sekolah dasar bertaraf internasional. Tom tinggal di Wonoharjo, sebuah tempat perbatasan antara Sukoharjo dan Wonogiri, tempat asalnya. Aku tinggal di kota asalku juga, Purworejo Berirama. Sedangkan Supri, entah hidup di mana. Meski aku masih menyimpan nomor handphonenya, rasanya enggan untuk bertanya. Well, you must know guys, I miss you much. I luph u all. ^_^

IHT 2019

download here: https://drive.google.com/file/d/1lcitNhP0T9GSS7mMimlo9hpthf-Cn4Id/view?usp=sharing