Sabtu, 27 April 2013

BAHASA INGGRIS SULIT DAN MEMBOSANKAN? SIAPA BILANG?

Bahasa Inggris adalah sebuah bahasa yang tidak dapat kita pisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bagaimana tidak? Bahasa ini telah dipakai sebagai lingua franca oleh semua negara di dunia. Oleh karena itu, kita sebagai kaum yang notabene disebut melek pengetahuan wajib menguasai bahasa ini.
Mengapa perlu belajar bahasa Inggris?
Di bawah ini tertulis dua alasan utama mengapa kita perlu sedikit tahu tentang bahasa Inggris:
  1. karena bahasa ini adalah bahasa internasional yang dipakai di seluruh penjuru dunia. Semua buku internasional memakai Bahasa Inggris. Film internasional juga memakai Bahasa Inggris. Jadi, ketika kita berwisata ke negara Mexico atau Cina, kita tidak perlu mempelajari bahasa Latin dan Cina. Cukup dengan berbekal bahasa Inggris saja.
  2. mata pelajaran ini diujikan dalam Ujian Akhir Nasional!!! Ini seringkali menjadi momok. Banyak sekali siswa yang tidak lulus karena Bahasa Inggris, bukan Bahasa Indonesi. Padahal pada intinya kedua bahasa tersebut memiliki pokok ajaran yang hampir sama.
Sekarang sudah tahu kan betapa pentingnya bahasa ini dalam kehidupan sehari-hari? Bisa dikatatakan bahasa Inggris merupakan konsumsi primer yang wajib dikuasai oleh pelajar di Indonesia. Akan tetapi, beberapa pihak mengatakan bahwa mustahil bagi orang Indonesia untuk dapat mahir memakai bahasa Inggris. Alasan utama yang paling sering muncul sebagai hambatan suksesnya pembelajaran bahasa Inggris adalah anggapan bahwa kita terlahir dengan “lidah Indonesia”, jadi apapun yang kita lakukan untuk belajar bahasa ini tidaklah mungkin bisa. Asumsi ini memberikan dampak negative bagi mindset pelajar sehingga mereka sudah merasa enggan sebelum belajar. It’s a NO NO! Lalu mengapa banyak warga AS berdarah Indonesia yang malah lebih mahir berbahasa Inggris dan tidak mengerti sama sekali bahasa Indonesia? Sekali lagi bukan karena lidah! Alasan sesungguhnya ada pada lingkungan dan kebiasaan. Jika kita membiasakan diri belajar, apa pun akan kita takhlukkan. Dan ada satu hal lagi yang perlu kita lakukan: amalkan yang sudah kita dapatkan. Tanpa implementasi yang kontinu, segala hal yang kita dapat akan lenyap. Ingat sebuah jargon sebuah perusahaan bonafid dunia “Practice Makes Perfect”. So, mulai saat ini, jangan anggap Bahasa Inggris sebagai bahasa yang tidak mungkin kita kuasai. Di dalam buku Financial Revolution, Tung Desem Waringin berkata bahwa manusia cenderung menjauhi hal yang dibencinya, dan mendekati hal yang disukainya. Oleh karena itu, cintailah Bahasa Inggris dahulu, maka Anda akan temukan bahwa Anda mahir dalam bidang itu!
Lalu, bagaimana cara belajar bahasa Inggris yang tidak membosankan?
Ada dua pilar utama dalam bahasa Inggris, yaitu Vocabulary (kosakata) dan Grammar (Tata Bahasa). Kalau kedua hal ini dapat kita kuasai, maka kita dapat berbicara lancar layaknya Justin Bieber yang asli kelahiran Kanada. Nah, kosakata ini dapat kita kuasai dengan belajar sendiri. Andai saja sehari kita menghapal 5 kata, maka dalam setahun kita sudah menguasai lebih dari 1500 kata. Incredible… Sedangkan Grammar adalah bagian dari Bahasa Inggris yang diajarkan di sekolah dan dapat pula kita pelajari dari membaca buku maupun belajar dari internet. Nah, sebagai upaya infiltrasi kedua materi ini, kita dapat memakai banyak sekali cara menarik untuk belajar Bahasa Inggris, diantaranya:
1.      Western Song
Media lagu dapat kita pakai sebagai sarana untuk belajar dalam aspek Speaking. Kita dapat belajar mengucapkan kalimat, frasa, maupun kata dalam bahasa Inggris dengan benar dari menyanyikan lagu berbahasa Inggris. Selain itu, lagu juga merupakan media yang sangat ampuh untuk mempelajari aspek Listening. Grammar pun dapat kita pelajari dari beberapa lagu. Sebagai contoh, kita bisa menemukan materi Conditional Sentences dalam lagu kepunyaan Hoobastank yang berjudul If I Were You. Dari judul lagu saja bisa kita ketahui kalau dalam Pengandaian (Conditional Sentences) tipe 2, subject “I” harus diikuti oleh tobe past “were”, tidak seperti dalam pola Simple Past Tense yang menggunakan “was”
2.      Games
Games akan sangat efektif dipakai untuk siswa karena teknik ini memotivasi siswa untuk belajar tanpa memberikan efek “memaksa”. Sifatnya yang santai dan menyenangkan mampu menciptakan suatu iklim belajar yang membuat siswa tidak cepat merasa bosan dengan materi yang dipelajari.
Contoh:
Dalam sebuah Games bernama Action Mimes, siswa bersama teman-temannya dapat belajar berbagai aspek bahasa Inggris. Misalnya salah satu dari mereka menjadi actor yang memainkan mimic sebagai seorang penyanyi. Nah, tugas siswa lain adalah menebak apa yang dia lakukan dengan menggunakan kalimat Present Continuous Tense “She is singing a song”. Dalam hal ini, secara tidak langsung siswa diajak untuk memahami materi Present Continuous Tense tanpa harus belajar dengan membaca dan menghapal dari buku seperti biasa.
Ada banyak sekali buku yang beredar di pasaran yang memaparkan berbagai macam Games yang bisa digunakan dalam mempermudah belajar bahasa Inggris, misalnya buku berjudul Fun English Games and Activities for You karangan Redjeki Agoestyowati.
3.      Penggunaan media (gambar, flash card, maps)
Gambar dapat dipakai sebagai media untuk belajar kosakata maupun grammar dengan cepat. Kebanyakan kamus anak-anak juga disajikan dengan menyertakan gambar di dalamnya karena gambar ini akan memudahkan pebelajar dalam meyerap materi yang harus dia kuasai. Ilustrasi materi grammar yang disajikan dengan gambar juga dapat meminimalkan tingkat kebosanan dan meningkatkan pemahaman siswa.



 
4.      Film
Jones (1997:5) menyebutkan beberapa keuntungan penggunaan film dalam belajar bahas Inggris. Film dapat memberikan gambaran mengenai real English-speaking. Dari film, pebelajar dapat mengerti bahwa bahasa speaking tidaklah serumit bahasa writing yang sangat mengedepankan struktur tata bahasa. Ini akan menumbuhkan self confidence pada siswa karena mereka akan tahu bahwa jika ingin lancar berbicara, bahasa speaking tidaklah rumit. Selain itu, body language, gestures, ekspresi juga dapat dipelajari dari film. Film juga memberikan beberapa informasi tidak langsung mengenai cara memulai percakapan, diskusi, dan komunikasi tanpa memalui proses menjemukan dengan hanya mempelajari melalui membaca. Kemampuan listening dan penambahan vocabulary juga dapat ditingkatkan dengan cara yang menyenangkan pula. Tonton film hollywood, dan simak dialog dari para aktor dan aktris. Catat  kata baru yang anda dapatkan dari teks terjemahan (subtitle), lalu rasakan manfaatnya.
5.      Praktek speaking dengan doa
Pernahkah kita mencoba berbicara kepada Tuhan dalam Bahasa Inggris? Trik ini mungkin terdengan sedikit lucu, tapi kalau kita malu berbicara dengan teman, mengapa kita tidak berbicara dengan Tuhan yang tidak akan menertawakan kita saja? Mungkin sebelum tidur kita bisa berdoa sederhana seperti ini:
Thanks God for today, thanks for Ur guidance all the days, thanks for every bread I have gotten, thanks for every people I have met, thanks for each activities U have permitted to be done, thanks for my lovely family, now I'm going to bed. Good night God.

Cara-cara yang disebutkan di atas hanya merupakan contoh pembelajaran bahasa Inggris yang bisa diterapkan agar proses belajar kita tidak melulu sebagai proses “duduk, baca, ingat”. Yang perlu kita ingat adalah jadikan bahasa Inggris sebagai sebuah objek yang menyenangkan bukannya menakutkan untuk dipelajari. Ingat: cintailah bahasa Inggris dulu, lalu praktekkan! Mozart baru dikatakan menjadi masterpiece setelah mengadakan kurang lebih 10 tahun konser, Graham Bell baru dikatakan berhasil setelah menjalani kurang lebih 999 percobaan, jadi jangan takut gagal pada percobaan kita yang pertama. Jangan meng-underestimate diri kita sendiri, yakinlah kalau kita BISA!!! Let’s have a try… J

Senin, 27 Agustus 2012

HANTU vs TUHAN

Pernahkah kalian melihat hantu? Kata nenekku, sewaktu muda dahulu beliau pernah dihadang kuntilanak di dekat pohon asam tua di tengah desa. Masa iya sih? Aku tidak percaya. Ibuku juga pernah bercerita kalau setiap akan nada orang meninggal, pohon bambu di belakang rumah pasti berbunyi “klotak klotak”. Tapi aku juga belum pernah mendengar bunyinya. Masih banyak lagi cerita lain yang menceritakan tentang keseraman hantu atau hal berbau klenik lain. Tapi masa iya sih? Manusia dan hantu kan punya dua dunia yang berbeda. Ngapain juga hantu ganggu kita? Kurang kerjaan banget kan. Opini pribadiku ini bertahan sampai suatu ketika…

Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta ke Purworejo. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 malam lebih kurasa. Aku sendirian, mengendarai motorku. Dari kota Purworejo sampai rumahku, aku masih harus menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit, karena rumahku berjarak 12 km dari pusat kota. Dari kota sampai pertigaan daerah bernama Maron, suasana masih biasa saja. Masih banyak lampu jalan dan rumah penduduk di area sepanjang jalan itu. Namun, jalanan mulai sepi ketika motorku mulai melaju dari arah desa Maron ke rumahku. Hmm, masih empat kilometer lagi baru aku bisa merebahkan badanku di kasur empukku.

Dari pertigaan desa itu, ada sebuah tempat yang kata orang dianggap sebagai tempat yang penuh misteri dan angker. Setono Segemblong. Setono adalah istilah yang diambil dari bahasa Jawa setempat yang artinya kuburan. Kuburan itu bernama Kuburan Segemblong, atau Setono Segemblong.

Perasaan takut dan was-was mulai menggerayangiku ketika aku memasuki daerah Jetak, kurang lebih 200 meter dari pertigaan Maron. Sebenarnya ketakutanku bukan berasal dari adanya hantu. Hari gini masa iya ada hantu, pikirku. Lagian kan aku naik motor, bisa langsung tancap gas kalau dikejar. Ya kan? Ketakutanku lebih berasal dari adanya rampok atau penjahat yang bisa saja menghadangku di jalan. Berkeliarannya makhluk cantik macam aku malam-malam seperti ini pasti kan mengundang bandit (eh eh eh, cantik ya…jadi batuk). Memasuki daerah Jetak, aku mulai menggigil kedinginan. Maklum saat itu hujan deras. Lampu rumah penduduk di sekitar daerah itu padam total, dan tidak ada lampu penerangan jalan di area itu. Busyet dah. Gelap banget. Seratus meter, dua ratus meter, dan akhirnya sebentar lagi aku akan melewati Setono Segemblong yang terkenal angker itu. Ketika aku melintas pas di depan gerbang kuburan itu, tiba-tiba motorku berhenti. Apaan lagi ini! Malah mogok. Pas di gerbang pula. Sialan, umpatku dalam hati. Aku pun turun dari motorku. Kutendang ban motor untuk melampiaskan kejengkelanku seperti dalam sinetron-sinetron di TV. Hujan belum kunjung reda. Daerah itu juga sepi, tak ada satu rumah pun yang berdiri di sekitar kuburan itu. Ya iyalah! Secara itu kuburan, masa mau dirikan rumah dekat-dekat situ, kayak tidak ada tempat lain aja. Kukeluarkan HPku, berniat menelepon bapakku, minta dijemput. Tapi  ternyata HP itu mati. Ingin rasanya aku berteriak minta pertolongan saat itu. Tapi mana ada orang lewatj jam segitu? Ini bukan kota metropolitan, bung! Aku terduduk di pinggiran jalan, berharap akan ada mobil atau kendaraan lain yang lewat, dalam kondisi HAMPIR menangis (seingatku, terakhir kali aku menangis adalah pas aku lahir, hehe). Rasanya seperti seratus tahun aku diam di sana. Tapi ternyata baru sepuluh menit. Tidak ada yang bisa kulakukan kecuali menunggu. Aku belum pernah mengalami hal yang namanya mogok di jalan sepi sebelum ini. Tiba-tiba, ada suara memanggilku.
“Motornya kenapa mbak?” seorang bapak separuh baya muncul. Entah darimana datangnya si bapak ini. Dia mengenakan sarung yang dikalungkan di lehernya, celana pendek tiga perempat seperti yang biasa dikenakan oleh orang Madura, sandal jepit, kaos warna gelap, dan peci hitam. Tangan kanannya menggenggam payung warna hitam. Kurang lebih penampilannya seperti itu. Aku lupa. Maklum saja, kejadiannya kan sudah dua tahun lalu.
“Mogok Pak, tidak tahu kenapa” jawabku sedikit lega karena akhirnya ada orang lewat. Bapak ini mungkin  adalah salah seorang warga yang sedang jaga ronda malam ini, pikirku.
“Sini saya bantu” si bapak itu langsung memeriksa motorku.
Kurang lebih lima menit setelah bapak itu melihat dan mengecek motorku, si motor yang kunamai Edgarda ini bisa menyala. Edgarda adalah kata yang berasal dari bahasa Anglo Saxon, kalau tidak salah, yang berarti pahlawan sejati.
“Alhamdulilah” batinku.
“Ini mbak, motornya sudah menyala. Saya permisi dahulu” kata si bapak itu berpamitan.
“Duh, terimakasih sekali Pak… Ini ada sedikit ongkos buat beli rokok untuk Bapak. Anggap saja sebagai ungkapan terimakasih dari saya” kataku sembari menyorongkan selembar uang sepuluh ribuan pada malaikat penyelamatku itu.
“Tidak usah Mbak. Rusaknya tidak parah kok. Saya permisi dulu” kata orang itu sambil berlalu pergi.
“Ya sudahlah. Tapi saya terimakasih sekali ya” jawabku setengah berteriak karena orang itu hamper lenyap ditelan pekatnya malam dan derasnya hujan. Lumayan, uangku yang sepuluh ribu tidak jadi melayang. Masih bisa kupakai untuk jajanku esok hari, hi hi hi.
Aku sudah bersiap-siap untuk men-starter motorku. Kucoba sekali, tapi kok tidak berhasil. Mati. Kugenjot starter manual di sebelah kanan kakiku. Tidak berhasil. Kuulangi lagi berkali-kali. Tetap tidak mau hidup juga. Kutolehkan kepalaku ke arah si bapak tadi menghilang. Rasanya dia berjalan kearah selatan.
“Paaakkk, tolong saya lagi Pak! Motor saya mogok lagi!” teriakku panik.
Tidak ada sahutan atau suara yang menjawabku. Aneh. Padahal belum ada semenit lalu si bapak itu pergi meninggalkanku. Kok sekarang sudah raib.

Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Entah apa yang membuat rasa takut yang begitu mencekam melandaku. Jangan-jangan si bapak tadi hantu!!! Aku tidak mau lagi duduk menunggu bala bantuan yang hendak membantuku seperti yang kulakukan tadi. Langsung saja kudorong motorku, balik lagi ke arah Maron. Daerah di sekitar itu memang tidak datar. Rumahku terletak di area yang lumayan tinggi, sehingga jika ada motor mogok atau kehabisan bensin bisa mendorong saja turun ke desa Maron tanpa perlu menghidupkan mesinnya. Tak kuasa lagi aku menahan rasa cemas dan takut di hati dan otakku. Pelan tapi pasti, motorku melaju ke bawah. Jantungku berdegup kencang tidak karuan. Sumpah aku ketakutan setengah mati. Sesampainya di pertigaan desa Maron, motorku hidup kembali. Hidup sendiri tanpa kuapa-apakan. Astaga naga! Apalagi ini? Tapi syukurlah ya Allah.

Kutata napasku selama lima menit. Kubaca basmalah dan ayat kursi. Lalu kuputar balik motorku. Kukumpulkan keberanianku untuk pulang. “Pulang” menjadi kata yang amat menyeramkan buatku. Bagaimana tidak? Kalau aku mau pulang, berarti aku harus melewati kuburan itu lagi. Bagaimana kalau motorku mogok lagi di tempat itu? Kubuang jauh-jauh pikiran itu. Kubulatkan tekad untuk melewati kuburan itu. Lalu dengan membaca doa, kulajukan motorku. Dan akhirnya…lima menit setelah saat itu…aku berhasil sampai di rumah. Dengan selamat.

Itulah pengalamanku. Nyata, bukan rekaan semata. Sampai saat ini, aku masih juga tidak tahu apakah si bapak yang menolongku itu manusia atau bukan. Tidak juga kupikirkan kuburan itu angker atau tidak. Yang jelas, setan itu memang ada. Mereka hidup berdampingan dengan kita. Tapi yakinlan, Allah selalu ada untuk melindungi kita, hamba yang sangat dicintai-Nya.

Minggu, 26 Agustus 2012

Duo Gaptek Dyanggih Supri


Diam. Sepi. Sunyi sekali rumahku hari ini. Padahal, hari ini masih merupakan hari ke-enam Idul Fitri. Dahulu kala, saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku biasa menghabiskan tujuh hari dalam tiap-tiap bulan Syawal untuk mengunjungi sanak saudara. Kegiatan itu terjadi di setiap bulan Syawal dulu sekali, kurang lebih lima belas tahun lalu, tentu saja bersama kedua orangtuaku yang galak tapi amat sangat kucintai (sorry, mommy J ). Namun saat ini, semua kebiasaan berubah 180 derajat. Memang sesuatu itu tidak pernah ada yang abadi. Laku kehidupan mengalir seperti perputaran roda. Dahulu, keluarga kami yang datang berkunjung. Namun sekarang, kami yang dikunjungi. Agak bosan memang buatku kalau hanya menunggu tamu seharian di rumah. Iseng iseng, kubuka handphoneku. Ada satu SMS dari Tom, teman kuliahku di universitas. Nama aslinya adalah Nanik Sri Retnaningsih. Namun, aku biasa memanggilnya dengan sapaan Tom, karena dia “tom”boy. Penampilannya tidak ubahnya seperti anak laki-laki. Sepatu kets, kaos oblong, tas ransel, dan topi. Dia suka sekali minum es. Kulitnya putih, pertama bertemu dengannya kupikir dia adalah seorang warga negara keturunan, dan wajahnya cantik. Tapi karena penampilannya yang tomboy ini,  beberapa temanku malah menganggap dia ganteng. Sebagian teman kuliahku memanggil dia Gates, karena dia suka sekali dengan penyanyi bernama Gareth Gates. Seingatku, hanya ada dua orang yang memanggilnya dengan panggilan “Nanik”, yaitu Mba Wastuti dan Dyanggih. Sedangkan temanku yang lain yang bernama Suprek memanggilnya dengan panggilan Mba Nanik. Dalam SMSnya itu, Tom menulis “You got a reward from Suprek”. Entah apa maksud SMS itu.

Suprek atau Supri adalah teman PPLku dan Tom sewaktu kami mengajar di SMA Negeri 1 Surakarta tahun 2009 lalu. Aku dan Tom berasal dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Sedangkan Supri dan sahabat karibnya Dyanggih, adalah mahasiswa praktikan Universitas Sebelas Maret dari jurusan Pendidikan Olahraga. Aku dan Tom menyebut mereka berdua sebagai Duo Gaptek Dyanggih dan Supri. Betapa tidak, di zaman modern seperti ini, yang bahkan laptop dimiliki dan dioperasikan hampir semua anak TK, justru sama sekali tidak dikuasai oleh mereka berdua. SAMA SEKALI! Ketika masa akhir PPL tiba, semua mahasiswa harus mengumpulkan laporan observasi tentang sekolah yang kami tempati. Tentu saja all must be computerized. Dan dua makhluk aneh itu menghabiskan hampir setiap waktu sore mereka di boarding house alias kostku untuk merayuku dan Tom agar membantu mereka mengerjakan laporan mereka. Karpet merah kesayangankupun harus rela digelar berhari-hari di ruang tamu sebagai alas tidur mereka ketika mereka lelah. Baru setelah jam dinding menunjukkan pukul 21.00, tanda waktu kunjung kost berakhir, mereka akan melenggang keluar dengan meninggalkan sisa makanan dan tempat yang berserakan. Ke-gaptekan Supri bahkan lebih parah. Di saat semua siswa sudah punya akun twitter dan facebook, Supri baru memiliki facebook beberapa bulan lalu. Itu saja tidak pernah di update.

Dyanggih adalah mahasiswa yang berasal dari Pati. Teman-teman memanggilnya Anggeh. Sedangkan aku lebih suka memanggilnya dengan sebuat “Dy”, karena lebih simple.  Anaknya lumayan ramah dan suka menolong. Suka berbicara dengan memakai bahasa Inggris yang kacau balau. Tingkah lakunya lumayan dewasa, mungkin karena dia adalah anak sulung di keluarganya. Satu kebiasaanya yang tidak pernah bisa kulupakan adalah dia suka sekali tidur di sembarang tempat. Dia bahkan pernah meninggalkan bekas pulau buatan di karpet merah kesayanganku. Aku juga masih menyimpan fotonya yang tertidur lelap di ruang PPL. You look so cute in that pic, pal.

Sedikit berbeda dengan Dyanggih, Supri merupakan manusia yang sedikit menyebalkan menurut Tom, menurutku biasa saja. Dia berasal dari kota yang sama dengan Tom, Sukoharjo. Tidak dapat kupungkiri, anak itu memang sedikit sok dan “kemaki”, tapi pada dasarnya dia lumayan baik dan punya kebiasaan aneh. Aku masih ingat ketika sore itu dia ke kostku dengan memakai kaos kaki dan sandal berwarna pink. Dia juga memakai kotak pensil yang lucu, seperti yang dimiliki oleh kebanyakan anak perempuan. Kata Tom, kotak pensil itu masih ada sampai sekarang. Tulisannya juga sangat rapi, bahkan lebih rapi dari tulisanku yang sudah terkenal sebagai tulisan paling rapi seantero negeri (opiniku sendiri, hehehe). Anak ini suka sekali pada warna merah. Sepeda motornya, kaos olahraganya, sepatunya, semua berwarna merah. Aku bahkan belum pernah melihat Supri mengenakan kaos lain selain warna merah, entah saking banyaknya kaos merah atau dia memang hanya punya satu. Hehehe. Tapi, makhluk aneh ini sungguh sangat setia pada sahabatnya yang bernama Dyanggih. Beberapa kali dia bersungut-sungut di depan kami, melaporkan kelakuan Dyanggih yang hobi sekali molor. Dia jemput Dyanggih ke sekolah pukul enam, tapi si Anggeh ini masih nyenyak bermimpi. Tentu saja Supri harus menungguinya mandi sampai melahap sarapan sama seperti seorang cowok yang menanti kekasihnya berdandan. Dan hal ini terjadi berulang kali. Tapi meski seringkali mengeluh, toh Supri tetap saja menjemput Dyanggih dan mengulangi keluhannya pada kami.

Bnayak hal lucu tentang mereka yang masih berputar-putar di memoriku sampai sekarang. Contohnya tentang istilah “lele”, “nggapleki”, dan “nggateli” yang mereka ajarkan padaku dan Tom. Ketika mengumpat, Dyanggih suka sekali menggunakan istilah “lele”. Sedangkan Supri, lebih sering mengatakan “nggateli” dan “nggapleki”. Entah apa arti istilah itu. Sampai sekarang aku tidak pernah tahu. Satu hal lucu lain tentang mereka adalah ketika mereka berdua masuk tergopoh-gopoh ke ruang PPL di SMA 1 dalam kondisi panik dengan keringat yang tak henti-hentinya mengalir dari leher Supri. Dyanggih berusaha menenangkan sahabat sejatinya itu. Ketika Tom bertanya apa yang terjadi, mereka berdua, dengan nada ketakutan bercerita bahwa ketika mereka mangajar, seorang siswa cedera. Entah apa yang mereka lakukan hingga katanya membuat kepala siswa itu berdarah-darah. Dari ceritanya, sepertinya keadaan siswa itu biasa saja. Tapi dasar Dyanggih-Supri ini orangnya super duper lebay, hal semacam itu sempat membuat adrenalin kami terpacu keras, melebihi keseraman film Suster Ngesot atau Hantu Casablanca. Kelakuan duo ini, terutama sifat kemaki Supri, tentu saja membuat Tom berang. Selama ini, teman kami di program studi (prodi) Bahasa Inggris semuanya normal. Tapi di sisi lain belahan bumi ini, ternyata ada manuasia yang benar-benar “weird” seperti mereka.

Kembali lagi ke SMS dari Tom yang baru saja kubaca. Sekarang ini, aku merasa akhirnya perseteruan searah antara Tom dan Supri sudah hampir usai (akhirnya…). Kusebut perseteruan searah karena nampaknya hanya Tom yang sering keberatan dengan kelakuan Supri, sedang Supri malah semakin gencar menggoda kalau Tom terlihat marah. Dari SMS Supri beberapa hari lalu yang mengatakan mereka punya proyek bersama, juga telah mengindikasikan kalau mereka tidak keberatan terlibat dalam satu pekerjaan. Masih segar dalam ingatanku tentang berbagai kejadian kebencian Tom pada Supri dua tahun lalu. Saking bencinya, Tom (dan juga aku) suka menyebut Supri sebagai salah satu lakon game bernama Poke yang setiap hari kami mainkan. Saat itu, semua mahasiswa PPL di SMA 1 terkena syndrome game poke, kami menyebutnya. Kalau kami sedang tidak ada tugas, dapat dipastikan kami akan nongkrong di depan laptop atau komputer ruang PPL untuk menyelesaikan game poke bersama. Sebenarnya tidak semua. Hanya aku, Tom, Tutur, Khitna, Dyanggih, dan Supri saja yang tergila-gila dengan game ini. Tutur dan Khitna adalah dua orang mahasiswa genius dari prodi Matematika. Karena kejeniusan itu, mereka kami paksa untuk membantu permainan. Selain kami, semua normal dan menjalankan tugas dengan penuh tanggungjawab. Mereka bahkan tidak sempat menyambangi file atau program berbau game atau sejenisnya. Nah, di game poke ini ada seekor lakon berwujud monyet. Kami berdua, Tom dan aku, suka sekali cekikikan setiap melihat ikon game ini. Kami merepresentasikan monyet ini sebagai Supri di dunia game. KEJAMNYA! Ini juga salah satu alasanku beberapa hari yang lalu mengirimi SMS permohonan maaf. Dosaku dan Tom di masa lalu cukup membuat kami berlama-lama di neraka kelak. Hehe, peace…Supri!

Pertemanan erat antara Tom dan aku dengan duo gaptek Dyanggih dan Supri memang hanya enam bulan selama masa PPL saja (bayangkan, kami berdua melewati masa-masa menyedihkan bersama duo gaptek yang payah selama enam bulan, padahal PPL universitas di kotaku hanya PPL selama dua bulan) memang tidak selalu menyenangkan. Namun, kenangan aneh bersama mereka cukup bisa membuatku tersenyum bila mengingatnya. Kadang juga membuatku bisa menangis merindukan mereka karena mustahil bagi kami untuk mengulangi masa pergi membunuh (baca: go kill) kami dulu. Dyanggih saat ini tinggal di Jakarta, menjadi seorang guru olahraga di sebuah sekolah dasar bertaraf internasional. Tom tinggal di Wonoharjo, sebuah tempat perbatasan antara Sukoharjo dan Wonogiri, tempat asalnya. Aku tinggal di kota asalku juga, Purworejo Berirama. Sedangkan Supri, entah hidup di mana. Meski aku masih menyimpan nomor handphonenya, rasanya enggan untuk bertanya. Well, you must know guys, I miss you much. I luph u all. ^_^

Jumat, 20 April 2012

BAHASA INGGRIS YANG MENYENANGKAN

“Bu, mengapa kita harus belajar Bahasa Inggris?” Pertanyaan ini ditanyakan oleh salah seorang siswa saya di kelas 10. Well, banyak sekali alasan yang membuat kita, entah terpaksa atau dipaksa, harus belajar Bahasa Inggris. Mau tidak mau, sadar atau tidak sadar, kedudukan Bahasa Inggris bahkan sudah menggeser kedudukan bahasa daerah dalam kehidupan. Bagaimana tidak? Dalam Ujian Nasional di jenjang SMP, SMK, SMA, maupun pendidikan formal setingkatnya, kedudukan Bahasa Inggris (bersama dengan Matematika) sejajar dengan Bahasa Indonesia yang juga dipakai sebagai tolok ukur kelulusan siswa. Dalam dunia kerja-pun, suatu kemampuan berbahasa Inggris juga akan menjadi nilai lebih dari applicant yang mengajukan lamaran kerja. Jadi, dalam pemakaiannya, penggunaan Bahasa Inggris tidak jauh berbeda dengan pemakaian Bahasa Indonesia. Yang membedakan hanyalah statusnya: Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi bangsa Indonesia, sedangkan Bahasa Inggris hanya merupakan foreign language yang bukan merupakan prioritas untuk wajib dikuasai setiap warga Negara Indonesia.

Untuk mempelari suatu bahasa, dalam hal ini bahasa Inggris, diperlukan suatu usaha yang tekun dan berkesinambungan. Bagaimanapun, kita sebagai masyarakat pada umumnya bukan seorang manusia yang lahir dan besar di negara pengguna bahasa Inggris sebagai bahasa resminya. Ingat! Banyak orang yang salah kaprah, meng-claim bahwa alasan utama kita tidak dapat berbahasa Inggris selancar orang Inggris adalah ras kita yang berbeda. Anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Andai kita lahir dan besar di London, maka kita akan dapat berbicara dan menulis selihai penduduk pribumi sana. Namun apa mau dikata? Kita terlanjur lahir dan besar di Indonesia. Jadi, salah satu upaya untuk bisa mahir bahasa Inggris adalah dengan tekun belajar dan membiasakan diri dengan memakai bahasa ini sebagai bahasa kita sehari-hari. Seperti apa kata Honda: Practice makes perfect. 

Sebagai salah satu upaya peng-integrasian bahasa Inggris dalam masyarakat Indonesi, pemerintah telah menetapkan bahwa bahasa Inggris harus diajarkan sebagai mata pelajaran wajib di tingkat SMP (dan setingkatnya), SMA (dan setingkatnya), serta SMK (dan setingkatnya). Jadi, beban untuk membuat siswa menguasai bahasa ini diberikan kepada para guru bahasa Inggris di masing-masing institusi pendidikan. Tugas guru ini bukan merupakan tugas yang mudah. Pasalnya, sebelum belajar siswa sudah memenuhi mindset mereka dengan opini bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang sulit untuk dipejari. Hal ini tidak lepas dari angaapan bahwa masyarakat Indonesia tidak satu rumpun dengan masyarakay Inggris, jadi sekeras apapun usaha yang ditempuh tidak akan berhasil sempurna. Di sisi lain, cara penyampaian guru dalam mengajar bahasa Inggris juga sangat menentukan motivasi dan prestasi siwa kaitannya dengan belajar bahasa.

Ada banyak sekali hal yang dapat dilakukan oleh guru untuk membuat proses belajar mengajar menjadi menyenangkan. Salah satunya adalah dengan pengoptimalan media dan teknologi yang tersedia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat memberikan dampak dalam pembelajaran. Merebaknya pornografi dan kekerasan bisa jadi memang merupakan salah satu dampak negative dari perkembangan IPTEK. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa pembelajaran yang inovatif dan kreatif juga merupakan salah satu imbas positif dari perkembangan teknologi. Jadi, tugas guru tidak hanya sekedar mengajar tentang apa dan bagaimana bahasa Inggrsi itu, tetapi juga harus mampu menciptakan suatu suasana kondusif yang mampu me-maintain siswa agar tetap termotivasi untuk belajar. Ingat, siswa akan tertarik untuk belajar suatu pelajaran jika dan hanya jika mereka memyukai cara mengajar sang guru. Penggunaan gambar, lagu, dan video yang dapat diunduh secara bebas dari internet akan lebih menarik minat siswa untuk belajar daripada melulu belajar grammar dan kosa kata dari buku.

Selain tips di atas, sesekali selipkanlah gurauan dan cerita lucu dalam kegiatan belajar mengajar. Beberapa pihak memiliki anggapan bahwa guyonan hanya akan membuang-buang waktu. Eits…jangan salah. Jangan pernah menyamakan otak manusia dengan computer yang bisa tahan berkerja non-stop tanpa istirahat. Berdasarkan riset yang dilakukan para ahli, rata-rata otak manusia hanya mampu menangkap suatu informasi dalam kurun waktu 20 menit saja. Setelah itu, otak perlu pendapat suatu penyagaran atau istirahat beberapa saat.

Jangan anggap remeh hal remeh! Dua dasar dalam belajar bahasa Inggrsi yang sangat crusial adalah masalah grammar dan vocabulary. Penguasaan grammar akan sangat besar manfaatnya dalam Written English. selebihnya, yang diperlukan adalah penguasaan kosa kata yang notabene bisa dipelajari secara autodidak sebenarnya. Namun, kebanyakan siswa selalu beralasan bahwa mereka sudah tidak punya waktu lagi untuk menemukan sendiri kosa kata dalam bahasa Inggris. maka, ini menjadi tugas guru untuk dianalisis dan kemudian diterapkan dalam kelas. ada baiknya guru menyempatkan diri untuk mengecek kemampuan kosa kata siswa untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan mereka. Sekali lagi: jangan selalu anggap siswa tahu tentang segala yang kita bicarakan. jangan-jangan kita sebagai guru sudah cas cis cus berbicara dalam bahasa Inggris tapi justru siswa sama sekali tidak mebgerti apa yang kita bicarakan.

Pengajar yang bersemangat!! Percaya atau tidak, semangat seorang guru dalam menyampaikan materi akan sangat mempengaruhi psikologi siswa di kelas. penyampaian materi yang lemah lembut hanya akan semakin membuat siswa yang mengantuk tertidur pulas di kelas. Sebaliknya, pendidik yang mengajar dengan semangat yang tinggi akan membuat siswa bersemangat dalam belajar.

Langkah-langkah di atas hanya merupakan beberapa informasi saja untuk membuat belajar bahasa Inggris jadi menyenangkan. masih banyak lagi cara jitu untuk membuat belajar jadi indah. Selamat berkreasi!

IHT 2019

download here: https://drive.google.com/file/d/1lcitNhP0T9GSS7mMimlo9hpthf-Cn4Id/view?usp=sharing