Senin, 14 Maret 2016
Selasa, 18 Agustus 2015
Be Positive!
Di dunia ini, ada banyak sekali watak dan perangai manusia. Banyak orang baik. Namun, ada saja orang yang memiliki watak terlalu banyak bicara, terlalu suka ikut campur urusan orang, dan terlalu suka memaksakan nasehat. Adakalanya, kita sebal dengan beberapa orang yang punya watak seperti itu. Tapi kita harus sabar... Karena ini namanya dunia. Ada yang baik, ada pula yang jahat.
Bukannya tidak mau diberi nasehat, sungguh. Pasalnya, setiap nasehat yang diberikan seseorang, yang mana nasehat itu sangat baik dan terbukti ampuh pada orang tersebut, belum tentu cocok untuk kita. Kenapa? Karena masing masing dari kita punya kondisi berbeda. Yang membuat kita memiliki konsekuensi lain, punya pertimbangan lain.
Kadang, kurang nyaman juga dengan orang yang terlalu ikut campur urusan lain. Kadangkala, mengutusi urusan diri sendiri saja sudah repot, kenapa menambah repot dengan ikut campur urusan mereka? Tak perlu iri dengan tetangga sebelah yang punya Pajero Sport atau Nissan Juke baru kan? Yang penting hidup kita sudah cukup. Habis perkara. Tidak perlu berkomentar sinis ketika ada tetangga yang lulusan pascasarjana tapi lebih memilih jadi ibu rumah tangga hanya karena kita adalah wanita karir yang sukses. Pun tidak perlu mencerca karena tetangga sebelah lebih memilih untuk menitipkan anaknya ke baby sitter alih alih mengurusnya sendiri. Masing masing dari mereka punya alasan masing masing. Please, be positive.
Lalu, kenapa kurang sreg dengan orang yang banyak bicara? Belum tentu loh orang yang banyak bicara itu sembodo dengan apa yang dikatakannya. Selain itu, banyak bicara itu manfaatnya apa? Lebih baik waktu yang ada dipakai untuk mengerjakan hal hal lain yang lebih bermanfaat kan?
Mungkin orang lain juga sama seperti saya. Kurang suka jika terlalu digurui, diberi ceramah, disombongi, diajak bercerita terlalu lama, dan dicampuri urusannya. Maka, sebisa mungkin saya juga mulai berusaha untuk tidak melakukan hal hal semacam itu, supaya hidup orang lain juga bisa tenang bila berdampingAN dengan saya. Tapi sekali lagi, kita hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah dan khilaf. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik saja, baik dalam hablum minannas dan hablum minalloh. Setuju?
Bukannya tidak mau diberi nasehat, sungguh. Pasalnya, setiap nasehat yang diberikan seseorang, yang mana nasehat itu sangat baik dan terbukti ampuh pada orang tersebut, belum tentu cocok untuk kita. Kenapa? Karena masing masing dari kita punya kondisi berbeda. Yang membuat kita memiliki konsekuensi lain, punya pertimbangan lain.
Kadang, kurang nyaman juga dengan orang yang terlalu ikut campur urusan lain. Kadangkala, mengutusi urusan diri sendiri saja sudah repot, kenapa menambah repot dengan ikut campur urusan mereka? Tak perlu iri dengan tetangga sebelah yang punya Pajero Sport atau Nissan Juke baru kan? Yang penting hidup kita sudah cukup. Habis perkara. Tidak perlu berkomentar sinis ketika ada tetangga yang lulusan pascasarjana tapi lebih memilih jadi ibu rumah tangga hanya karena kita adalah wanita karir yang sukses. Pun tidak perlu mencerca karena tetangga sebelah lebih memilih untuk menitipkan anaknya ke baby sitter alih alih mengurusnya sendiri. Masing masing dari mereka punya alasan masing masing. Please, be positive.
Lalu, kenapa kurang sreg dengan orang yang banyak bicara? Belum tentu loh orang yang banyak bicara itu sembodo dengan apa yang dikatakannya. Selain itu, banyak bicara itu manfaatnya apa? Lebih baik waktu yang ada dipakai untuk mengerjakan hal hal lain yang lebih bermanfaat kan?
Mungkin orang lain juga sama seperti saya. Kurang suka jika terlalu digurui, diberi ceramah, disombongi, diajak bercerita terlalu lama, dan dicampuri urusannya. Maka, sebisa mungkin saya juga mulai berusaha untuk tidak melakukan hal hal semacam itu, supaya hidup orang lain juga bisa tenang bila berdampingAN dengan saya. Tapi sekali lagi, kita hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah dan khilaf. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik saja, baik dalam hablum minannas dan hablum minalloh. Setuju?
Rabu, 12 Agustus 2015
KERJA KERAS, KERJA CERDAS, KERJA IKHLAS
“Bekerja keras itu menghasilkan, bekerja cerdas itu melipatgandakan, dan bekerja ikhlas itu menenteramkan” (Jamil Azzaini)
Untuk meraih kesuksesan, manusia dituntut untuk selalu bekerja keras dalam melaksanakan kewajibannya. Namun, kerja keras saja belum cukup. Ada kalanya, apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya “bekerja ikhlas”. Namu, bekerja keras dan bekerja ikhlas saja belum cukup untuk membuat seseorang “puas” dengan hasil yang dicapainya. Kerja keras, cerdas dan ikhlas merupakan perpaduan yang harmonis dari setiap unsur kemanusiaan dalam diri manusia. Padu yang berarti tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Kerja keras yang berasal unsur jasmani, kerja cerdas yang bersumber dari penggunaan akal, dan kerja ikhlas yang berawal dari hati.
1. Kerja keras.
Segala hal yang dikerjakan dengan setengah hati tidak akan pernah mendapatkan hasil yang maksimal. Agnes Monica, artis multitalenta yang begitu terkenal itu menghabiskan lebih dari 14 jam waktunya dalah satu hari untuk terus berlatih menyanyi dan menari. Lihatlah hasil kerja kerasnya. Tariannya, suaranya, perfecto! Bandingkan saja dengan kita. Mungkin kerja atau belajar 6 jam sehari saja sudah membuat kita mengeluh sepanjang hari.
2. Kerja cerdas.
Cerdas. Kerja cerdas menuntut kita untuk bekerja sesuai prosedur yang benar dan tidak asal-asalan. Kerja cerdas adalah usaha yang terarah untuk mendapatkan hasil dengan menggunakan mesin kecerdasan sebagai upaya meningkatkan prestasi. Cirinya: mampu meningkatkan skala waktu, mengefektifkan sistem, mengkapitaliasi aset, menempa orang dan memperlancar keadaan (Syuhada, 2012)
3. Kerja ikhlas.
Saat orientasi kerja kita hanya materi, maka yang kita dapatkan hanya materi melimpah tanpa berkah yang mudah lenyap. Niatkanlah setiap usaha sebagai ibadah, maka langkah yang kita lakukan akan menjadi ringan tanpa beban. Selama ini bila kita mendengar istilah kerja dengan ikhlas, biasanya hanya dikaitkan dengan kerja yang sifatnya sukarela, tidak berbayar, pengabdian dan lain sebagainya. Padahal, ikhlas tidak ada hubungannya dengan berbayar atau tidak berbayar. Ikhlas adalah mengerjakan segala sesuatu hanya mencari keridlaanNya, bila Dia meridloi apa yang kita lakukan – tidak ada lagi yang perlu kita khawatirkan di dunia ini (Iqbal, 2013).
So, finally?
Yang perlu kita lakukan hanyalah berusaha, berdoa, dan serahkan hasilnya kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Tidak perlu mengeluhkan betapa beratnya hidup kita atau betapa sedikitnya hasil yang kita dapat. Dan pada akhirnya, kalau kita merasa perjuangan kita tidak pernah mendapat balasan sesuai keinginan kita, ingatlah wejangan dari Bibi May-nya Peter Parker dalam film Spiderman “Teruslah berbuat baik. Jika kau tidak mendapatkan hasil dari kerja kerasmu, niscaya kamu akan mati dengan bangga karena selalu dikenang sebagai orang baik.” You only have to remember one thing: Jika selama ini Tuhan belum mengabulkan semua doamu, bukan berarti Dia tidak sayang kepadamu. Dia hanya memiliki rencana lain yang lebih indah untukmu. Selamat bekerja.
Referensi:
Iqbal, Muhaimin. 2013. Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas. Retrieved from: http://geraidinar.com/index.php/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/81-gd-articles/entrepreneurship/1271-kerja-keras-kerja-cerdas-dan-kerja-ikhlas
Syuhada, Adji. 2012. Kerja Keras, Kerja Cerdas, dan Kerja Ikhlas. Retrieved from:http://www.rmbiografi.com/06/2012/kerja-keras-kerja-cerdas-dan-kerja-ikhlas/
Untuk meraih kesuksesan, manusia dituntut untuk selalu bekerja keras dalam melaksanakan kewajibannya. Namun, kerja keras saja belum cukup. Ada kalanya, apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya “bekerja ikhlas”. Namu, bekerja keras dan bekerja ikhlas saja belum cukup untuk membuat seseorang “puas” dengan hasil yang dicapainya. Kerja keras, cerdas dan ikhlas merupakan perpaduan yang harmonis dari setiap unsur kemanusiaan dalam diri manusia. Padu yang berarti tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Kerja keras yang berasal unsur jasmani, kerja cerdas yang bersumber dari penggunaan akal, dan kerja ikhlas yang berawal dari hati.
1. Kerja keras.
Segala hal yang dikerjakan dengan setengah hati tidak akan pernah mendapatkan hasil yang maksimal. Agnes Monica, artis multitalenta yang begitu terkenal itu menghabiskan lebih dari 14 jam waktunya dalah satu hari untuk terus berlatih menyanyi dan menari. Lihatlah hasil kerja kerasnya. Tariannya, suaranya, perfecto! Bandingkan saja dengan kita. Mungkin kerja atau belajar 6 jam sehari saja sudah membuat kita mengeluh sepanjang hari.
2. Kerja cerdas.
Cerdas. Kerja cerdas menuntut kita untuk bekerja sesuai prosedur yang benar dan tidak asal-asalan. Kerja cerdas adalah usaha yang terarah untuk mendapatkan hasil dengan menggunakan mesin kecerdasan sebagai upaya meningkatkan prestasi. Cirinya: mampu meningkatkan skala waktu, mengefektifkan sistem, mengkapitaliasi aset, menempa orang dan memperlancar keadaan (Syuhada, 2012)
3. Kerja ikhlas.
Saat orientasi kerja kita hanya materi, maka yang kita dapatkan hanya materi melimpah tanpa berkah yang mudah lenyap. Niatkanlah setiap usaha sebagai ibadah, maka langkah yang kita lakukan akan menjadi ringan tanpa beban. Selama ini bila kita mendengar istilah kerja dengan ikhlas, biasanya hanya dikaitkan dengan kerja yang sifatnya sukarela, tidak berbayar, pengabdian dan lain sebagainya. Padahal, ikhlas tidak ada hubungannya dengan berbayar atau tidak berbayar. Ikhlas adalah mengerjakan segala sesuatu hanya mencari keridlaanNya, bila Dia meridloi apa yang kita lakukan – tidak ada lagi yang perlu kita khawatirkan di dunia ini (Iqbal, 2013).
So, finally?
Yang perlu kita lakukan hanyalah berusaha, berdoa, dan serahkan hasilnya kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Tidak perlu mengeluhkan betapa beratnya hidup kita atau betapa sedikitnya hasil yang kita dapat. Dan pada akhirnya, kalau kita merasa perjuangan kita tidak pernah mendapat balasan sesuai keinginan kita, ingatlah wejangan dari Bibi May-nya Peter Parker dalam film Spiderman “Teruslah berbuat baik. Jika kau tidak mendapatkan hasil dari kerja kerasmu, niscaya kamu akan mati dengan bangga karena selalu dikenang sebagai orang baik.” You only have to remember one thing: Jika selama ini Tuhan belum mengabulkan semua doamu, bukan berarti Dia tidak sayang kepadamu. Dia hanya memiliki rencana lain yang lebih indah untukmu. Selamat bekerja.
Referensi:
Iqbal, Muhaimin. 2013. Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas. Retrieved from: http://geraidinar.com/index.php/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/81-gd-articles/entrepreneurship/1271-kerja-keras-kerja-cerdas-dan-kerja-ikhlas
Syuhada, Adji. 2012. Kerja Keras, Kerja Cerdas, dan Kerja Ikhlas. Retrieved from:http://www.rmbiografi.com/06/2012/kerja-keras-kerja-cerdas-dan-kerja-ikhlas/
Kamis, 18 September 2014
DEAR HATERS,
“You can hate me, you can talk bad about me, but it the end
I will stay happy and you will always stay jealous”
Dalam kehidupan ini, akan selalu ada orang yang suka
terhadap kita. Namun, pasti juga ada yang benci. Kenapa itu terjadi? Karena setiap
orang memiliki PRINSIP HIDUP dan WATAK yang berbeda. Ketika prinsip hidup
seseorang tidak sesuai dengan prinsip hidup orang lainnya, yang akan terjadi
adalah perbedaan pendapat yang mungkin akan mengakibatkan perbedaan hasil dan
pola pikir. Begitu juga dengan watak. Jika ada dua orang dengan watak yang
berbeda bertemu dan keduanya tidak dapat saling mengendalikan diri, maka yang
akan terjadi adalah perselisihan.
So, what should be done to avoid para haters terhadap kita?
Perselisihan sangat sulit untuk dihindari. Adakalanya, kita
sudah melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Tapi hal ini masih saja
dianggap kurang oleh seseorang. Atau mungkin kita sudah merasa telah bersikap
sewajarnya. Namun masih ada orang yang merasa tersinggung dengan sikap kita.
Hal terbaik yang perlu dilakukan adalah terus lakukan apa yang menurut kita
benar. Seorang hater itu akan terus memandang buruk kita (karena pada dasarnya
dia sudah tidak suka). So, keep doing good thing. Abaikan saja. Betapapun kuatnya
argumen kita untuk meyakinkan dia, it will be useless. Anggap saja itu
merupakan hak dia untuk tidak menyukai kita.
Hal kedua yang perlu dilakukan adalah stay calm. Tidak
perlu ikut terpancing emosi sepanas apapun kecaman para haters terhadap kita. One
proverb I remember a lot: Segala sesuatu yang dimulai dengan rasa marah itu
selalu berakhir pada rasa malu.
Selasa, 09 September 2014
Psstt... Keep Silence!!!
Terkadang,
pola pikir seseorang itu tercermin dalam tingkah laku dan perbuatannya. Sebagai
satu contoh: Menurut saya, orang hamil itu merupakan anugerah dari Allah yang
harus dijaga. That’s all. Selebihnya, terserah Allah. Namun, banyak orang yang
terlalu sering melebih-lebihkan dengan mempercayai banyak mitos. Terlalu banyak
nasihat justru membuatku semakin bertambah gerah. Kenapa harus percaya mitos?
Tidak boleh mbatin ini itu. Tidak boleh mbatin anak-anak nakal, nanti anak kita
ketularan jadi nakal. Wallahu Alam. Kalau menurut saya, serahkan semua pada
Allah.
Pola pikir
orang lemah juga terliha dari gayanya yang terlalu takut pada seseorang, entah
itu atasan atau seseorang yang dihormati. Ha mbok biasa saja. Kita semua
manusia biasa kok. Maka, saya biasanya lebih memilih menghindari kerumunan agar
tidak terlalu banyak dikomentari oleh orang-orang jenis ini. Diam menjadi
pilihan paling bijak. Tidak membalas pesan juga akan jadi alternatif
menyenangkan. Daripada SMS atau BBMan tapi jengkel juga melayani orang-orang
jenis ini. Fyuhhh... Sabarkan aku ya Allah...
Sabtu, 23 Agustus 2014
PERJALANAN THESISKU
Akhirnya aku bisa tersenyum lega.
Perjalanan di jenjang Pascasarjana ini selesai sudah. Ini bukan perjalanan
super mulus seperti yang disangkakan orang-orang. Bebagai halangan, malam-malam
berat, dan hari-hari yang melelahkan selalu adalah jalan yang harus kulalui
saat aku menjalani statusku sebagai mahasiswa Pascasarjana ini.
Thesis aku kerjakan setiap
hari. Senin pagi aku ke Solo.
Seperti biasa dengan menggunakan Prameks pagi. Hal ini berlangsung selama
kurang lebih 8 bulan. Pernah suatu kali aku ketinggalan kereta. Bukan
ketinggalan kereta tepatnya, tetapi kehabisan tiket sehingga aku tidak bisa
datang tepat waktu untuk menemui dosen pembimbingku, Dr. Ngadiso, M.Pd. Pernah
juga aku menumpang bus malam. Sopirnya adalah seorang bapak yang sangat baik
hati, sehingga beliau mengantarku tidak sampai Terminal Tirtonadi seperti bus
lain, tetapi langsung diantar sampai depan gerbang kampus UNS. Pernah juga kotaku
kebanjiran sehingga tidak ada bus yang lewat. Walhasil, aku telepon rumah untuk minta diantar ke Solo demi bertemu dosbing
satuku, Prof. Dr. Joko Nurkamto, M.Pd. Pokoknya, apapun kulakukan demi bertemu
dengan dosen pembimbingku.
Selasa pagi atau Senin sore,
aku kembali lagi ke Purworejo. Ada kewajiban yang harus aku penuhi di kota ini:
Mengajar. Jadwalku meliputi 50 jam pelajaran. Mengajar 40 jam, 5 jam sebagai
wali kelas, dan 5 jam sebagai Pembina OSIS. Selasa sore dari jam 4 sampai
dengan setengah 6 aku harus mengajar di kelas XI TP B. Hari Rabunya aku
mengajar 10 jam. Itu berarti aku harus mengajar di 5 kelas. Full dari pukul 7
sampai dengan pukul 15.00. Sore hari, biasanya aku harus menunggui kelas yang
berlatih upacara. Hmm.. Tanggung jawab sebagai Pembina Osis ini cukup
memberatkanku, sebenarnya. Pukul 17.00, biasanya aku baru bisa pulang. Langsung
mandi, dan tidur. Tengah malam biasanya aku akan terbangun. Tentu saja teringat
pada nasib thesisku yang harus segera kuselesaikan.
Kamis adalah hari yang paling
berat. Pasalnya, aku punya 12 jam mengajar yang harus dijalankan. Dari pukul
07.00, aku sudah berdiri di depan para siswa, menemani mereka belajar sampai
nanti pukul 17.30.
Jam mengajarku yang lumayan
ringan ada di hari Jumat. Hanya 4 kelas saja. Jadi, aku hanya stay di sekolah
dari pukul 07.00 sampai pukul 15.00. Itu kalau tidak ada latihan upacara. Kalau
ada, aku harus menunggui mereka dan dengan “terpaksa” harus tinggal lagi sampai
pukul 17.30.
Sabtu tidak berbeda dengan hari
lain. Sebelum pukul 07.00 tepat, motorku pasti sudah terparkir di lapangan
parkir sekolah. Dan motor itu baru akan pindah dari tempatnya setelah pukul
15.00. Ada 5 kelas yang menungguku di hari Sabtu.
Rabu, 05 Februari 2014
HINDARI KEGAGALAN MELALUI MANAJEMEN WAKTU
“Jika kita gagal merencanakan, berarti kita
sedang merencanakan kegagalan”
Menurut
sebagian orang, waktu sehari 24 jam adalah waktu yang sangat lama. Namun
sebaliknya, sebagian orang yang menganggap bahwa mereka memerlukan waktu lebih
banyak lagi agar dapat mengerjakan semua tugas mereka. Banyak siswa yang
mengatakan bahwa mereka sangat sibuk. Mereka bahkan tidak memiliki waktu untuk
sekedar menengok PR mereka. Padahal kenyataannya, mereka memiliki waktu yang
sangat longgar untuk membuka akun Facebook maupun berlama-lama di depan
computer untuk main video games. Pada saat sudah deadline tugas, barulah mereka
kalangkabut dan mngerjakan tugas/belajar ala kadarnya. Nah, disinilah alasan
terbesar mengapa seseorang harus memiliki menejemen waktu yang baik.
Beberapa
manfaat yang akan kita dapatkan dari menajemen waktu antara lain:
1. Full
Spirit!! Kita akan selalu bersemangat menjalani hidup
2. Hidup kita
menjadi seimbang, baik itu pekerjaan/pendidikan, keluarga dan refreshing
3. Kita dapat
mencapai impian kita
4. Selalu
termotivasi untuk action!
5. Terhindar
dari stress, pusing dan depresi
6. Tugas dapat
selesai tepat waktu
Nah, untuk
mendapatkan manfaat itu, mulai detik ini belajarlah untuk memiliki perencanaan
waktu yang baik. Ada beberapa hal yang perlu dikerjakan agar semua kegiatan
yang perlu dilakukan dapar terlaksana tanpa mengganggu proses pelakasanaan
kegiatan yang lain. Di bawah ini dijabarkan beberapa cara sederhana dalam
memanfaatkan waktu
1. Sediakan waktu khusus untuk mengerjakan tugas atau belajar
Dalam
waktu sehari, buatlah jadwal rutin untuk belajar atau menyelesaikan tugas.
Jangan terlalu lama memberi alokasi waktu, karena terlalu lama berkutat dengan
tugas justru akan menimbulkan beban bahkan stress. Sedikit demi sedikit, tapi
teratur dan benar-benar direalisasikan.
Beberapa
kegiatan (misalnya belajar) membutuhkan tempat khusus agar tidak mudah
“diganggu” orang lain. Carilah tempat nyaman dan paling disukai. Satu hal yang
perlu dipertimbangkan: ada kalanya, jauhi kamar tidur, karena belajar di kamar
hanya akan membuat kita mengantuk dan lupa pada tugas kita.
3. Review dan catat tugas mingguan di tempat yang sering dilihat
Kadang, kita lupa dengan tugas yang harus
diselesaikan. Sebagai bentuk antisipasi, cobalah untuk mulai menuliskan semua
tugas dalam sebuah catatan dan menempatkannya di tempat yang paling sering kita
lihat. Notes kecil adalah salah satu alternative yang bisa dipakai. Jika kita
sering membuka laptop, tidak ada ruginya kalau kita menuliskan tugas kita di
program Sticky Notes dan memajangnya di layar desktop. Jika jarang membuka
laptop atau malas menulis di notebook, menuliskan daftar antrian tugas di HP
adalah pilihan yang bijaksana. Tujuannya hannya satu: membuat kita senantiasa
ingat pada tugas! J
4. Buatlah skala prioritas
Bila ada banyak hal yang harus dikerjakan, buatlah
daftar kegiatan yang harus diselesaikan. Urutkan setiap tugas dalam urutan 1,
2, 3, dan seterusnya berdasarkan kepertingan atau deadline-nya. Laksanakan
tugas yang paling penting terlebih dahulu, baru kemudian tugas no 2 dan
seterusnya sampai selesai. Skala prioritas ini akan membuat kita bisa
menyelesaikan tugas sesuai jadwal, dan menghindari stress.
5. Luangkan waktu untuk bersenang-senang
Manusia
memiliki batas kemampuan. Jangankan kita, computer-pun akan jebol apabila
dinyalakan non-stop tanpa jeda. Oleh karena itu, otak dan badan membutuhkan
waktu untuk beristirahat sejenak. Tidak usah terlalu memaksakan diri jika
kondisi fisik memang sudah tidak memadai. Lakukan hal yang bisa mengembalikan
semangat seperti minum kopi, membaca novel kesukaan, sekedar jalan-jalan ke
mall, atau pergi ke taman.
6. Jangan membebani diri dengan tugas yang berlebihan
Kadangkalanya
karena terlalu bersemangat, kita membuat program yang amat sangat sulit
dilaksanakan. Misalnya, saat kita berencana untuk mendapatkan nilai 100 di
ulangan Matematika, kita berencana untuk tidak tidur semalaman. Alih-alih
dilaksanakan, kita malah sama sekali tidak melaksanakan program itu karena
sudah lelah membayangkan betapa mengerikannya belajar Matematika dalam waktu 6
jam. Seandainya terlaksana pun, ilmu yang kita dapat tidak dapat diserap secara
optimal karena belajar terlalau lama justru akan membaut otak buntu. Oleh
karena itu, buatlah perencanaan yang simple, ringan, dan sederhana agar mudah
dilaksanakan.
7. Temukan dan manfaatkan waktu sempit
Saat
berangkat sekolah di bus adalah salah satu waktu sempit yang bisa dimanfaatkan
untuk menengok tugas kita. Daripada 10 menit dibiarkan mengalir percuma, akan
lebih bermanfaat apabila kita membaca buku pelajaran yang belum sempat
dipelajari sebelumnya.
8. Jangan menunda! Lakukan secara bertahap, selesaikan satu per satu!
Semua
rencana yang telah kita buat akan menjadi sia-sia dan percuma jika tidak ada
realisasi. Maka, mulailah untuk tidak terbiasa menunda pekerjaan. Kerjakan
tugas seawal mungkin, agar nanti kita tinggal bersantai. Ingat, mengerjakan
banyak tugas ibarat menaiki anak tangga setinggi 100 m. Kita tidak mungkin
menapaki anak tangga langsung dari 1 ke 100, tapi harus bertahap. Satu hal yang
pasti: setapak demi setapak, kita PASTI SAMPAI.
Demikianlah paparan sekilas mengenai pentingnya menejemen waktu. Selamat mencoba. God bless you. Salam dan bahagia!
Langganan:
Postingan (Atom)
IHT 2019
download here: https://drive.google.com/file/d/1lcitNhP0T9GSS7mMimlo9hpthf-Cn4Id/view?usp=sharing
-
Di dunia ini, ada banyak sekali watak dan perangai manusia. Banyak orang baik. Namun, ada saja orang yang memiliki watak terlalu banyak bica...
-
Dalam rangka menyambut bandara baru NYIA (New Yogyakarta International Airport) yang rencananya akan beroperasi di akhir 2019, SMK TKM Tekni...
-
Bahasa Inggris adalah sebuah bahasa yang tidak dapat kita pisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bagaimana tidak? Bahasa ini telah dipakai ...


